OLEH : LAURENSIUS, SH.
Cerita ini diangkat dari
penuturan para pinatua di Sarereiket Pulau Siberut. Cerita ini menceritakan
seseorang yang merupakan salah satu nenek moyang orang Mentawai. Ia memeiliki
sebuah anugerah, dan kepadanya diberikan sebuah tanggung jawab oleh ilahi untuk
mengarahkan hidup manusia di Mentawai.
Pageta Sabbau merupakan sebuah nama yang sangat
terkenal dan dihormati pada salah satu sekelompok bangsa di Indonesia, yaitu bangsa
Mentawai. Sebelum terjadi penyebaran orang Mentawai disetiap pulau-pulau di
Mentawai, pada awalnya, orang Mentawai hanya berasal dari satu pulau, yaitu
pulau Siberut. Pulau ini merupakan sebuah pulau yang terbesar diantara tiga pulau
lainnya (Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan). Oleh karena itu, dipulau
Siberut inilah telah tercipta sebuah sejarah panjang Mentawai, dimana sejarah
ini tidak memiliki suatu tulisan melainkan melalui penuturan para orang tua
atau para tua-tua yang mereka terima secara turun-temurun dari nenek moyang
mereka.
Sejarah yang sifatnya lisan ini hampir
musnah, karena sifatnya tergantung kekuatan dan cara mengingatnya. Selain itu
perlu juga dilihat dari keinginan orang tua terus atau tidak mensejarahkan Mentawai
melalui tuturan kalimat, bukan tulisan.
Banyak sejarah Mentawai yang diketahui oleh
orang tua melalui penuturan mereka, namun penulis hanya mengambil satu batasan
dalam penulisan ini hanya mengenai seseorang yang pernah terkenal dan masih
membekas buktinya sampai sekarang. Memang pada dasarnya pemikiran penulis,
bahwa sejarah yang tidak memiliki bukti juga hanya sebuah fiksi sejarah. Tetapi
walaupun demikian pada dasarnya juga masih banyak penulis yang terkenal yang
ingin menggambarkan sebuah sejarah dunia masih dalam konteks pengaruh fiksi
sejarah. Mereka (para penulis) melakukannya untuk merangkai alur kejadian
sejarah agar mencapai suatu keaslian sejarah itu sendiri. Biasanya pelaku
sejarah sangat dekat dengan sebuah kejadian yang dilihat, dirasakan dan
dilakukan. Dalam mendokumentasikan sebuah sejarah, bisa saja pelaku sejarah
melakukan dengan cara tuturan dan orang lain menulisnya. Atau bisa saja pelaku
langsung melakukan pendokumentasian.
Dalam penulisan sejarah, yang paling sulit
diungkap adalah sejarah Mentawai karena tidak ada suatu bukti fisik yang dapat
menjadi obyek penelitian. Hanya saksi-saksi dan penyambung kalimat ceritera
lewat lisan saja. Namun penulis merasa perlu mengungkap salah satu sejarah
mengenai seseorang yang terkenal di Mentawai pada zamannya. Seseorang ini telah
merubah hidup dan tatanan kehidupan orang Mentawai pada zamannya dan saat ini.
Itulah dasarnya penulis memiliki motivasi untuk menulis tentang dirinya, dengan
berbagai macam pertanyaan dalam pikiran penulis atas dirinya, kemampuannya
merubah tatanan, budaya dan adat istiadat orang Mentawai. Bagi penulis
seseorang ini merupakan suatu dasar terciptanya sebuah keyakinan bagi orang
Mentawai yang akhirnya orang Mentawai mengalami suatu fenomena baru yang tidak
kalah dengan fenomena pada zaman saat ini.
Madobag, 19 Juli 2012
Penulis
Siapakah Pageta Sabbau ?
Nama Pagetta Sabbau merupakan sebuah nama
yang sakral bagi orang Mentawai. Karena kesakralannya, nama ini sangat jarang
disebut-sebut. Jika dilihat nama Pageta Sabbau, berasal dari kata “Paagaita
Sabeu”. Kalau diartikan dalam bahasa Mentawai sekarang akan memiliki makna “ Sangat
Saling mengenal”. Jika disusun kalimatnya secara sederhana akan menjadi “
Terkenal”. Namun karena perkembangan bahasa Mentawai, berubah kalimatnya
menjadi Pageta Sabbau. Pageta Sabbau merupakan salah satu nenek moyang orang
Mentawai yang hidup pada abad yang lampau kira-kira tahun 1496 (perbandingan
tahun kedatangan nenek moyang orang Mentawai dengan tahun sekarang ini),
setelah 146 tahun masa renaisans di Eropa (kira-kira tahun 1350-an).
Sejak kecil Pageta Sabbau sama
dengan anak-anak lainnya. Ia suka bermain gasing bersama teman-temannya. Namun
Pageta Sabbau memiliki hati yang baik. Jika ada teman-teannya yang bertengkar
memperebutkan gasing, Pageta Sabbau akan menyelesaikan persoalan itu tanpa ada
yang kecewa. Ia rela menggantikan gasingnya untuk temannya.
Pageta Sabbau bukan manusia biasa, Ia
memiliki sebuah kekuatan yang dasyat serta bertutur kata dengan memakai berbagai
macam perumpamaan kepada setiap orang yang menjadi lawan atau teman bicaranya.
Dalam hal ini saya teringat pada sebuah
kisah, yaitu kisah perjalanan Yesus yang selalu berbicara kepada
murid-murid-Nya dengan cara melalui perumpamaan. Seperti dalam Injil Mateus 13,
mencatat beberapa perumpamaan singkat yang disampaikan oleh Yesus kepada
murid-murid-Nya, seperti : Pelita dibawah Gantang, Biji Sesawi, Ragi, Jala,
Domba yang hilang, Perjamuan kawin dan lain sebagainya. Namun tidak hanya pada
injil Mateus saja mengenai perumpamaan yang disampaikan Yesus, tetapi ada juga
pada injil Markus dan Lukas.
Pageta Sabbau merupakan keturunan dari nenek
moyang orang Mentawai dari Sipaili. ia merupakan keturunan ketiga dalam
silsilah nenek moyang orang Mentawai. Pageta Sabbau memiliki kepribadian yang
baik. Ia juga memiliki seorang isteri yang baik yang bernama Rajiuk. Tetapi
mereka tidak memiliki keturunan. Pageta Sabbau hanya memiliki satu saudari yang
bernama Biusak. Saudarinya ini juga telah menikah kepada seorang laki-laki yang
bernama Ngolei, dan dikaruniai seorang putra yang bernama Penei.
Pageta Sabbau berasal dari suku Sabbau, yaitu
suku nenek moyang orang Mentawai pertama. Suku Sabbau merupakan suku yang
tertua di Mentawai. Mereka hidup tenang dan damai. Namun selain suku Sabbau,
ada juga suku-suku lain yang hidup dan tinggal jauh dari tempat tinggal suku
Sabbau. Merak tidak saling mengenal, karena alat komunikasi jelas saat itu
belum ada dan jalur-jalur transportasi yang sangat sulit serta rawan jika
berjalan sendiri karena jika menyeberang sungai ada buaya dan jika berjalan
melalui darat dikuatirkan banyak binatang buas yang mengganggu.
“Inilah
kisahnya” episode I
Pada dasarnya, kegiatan sehari-hari yang
dilakukan oleh Pageta Sabbau adalah seperti kegiatan manusia lainnya yang
dilakukan, misalnya berladang, beternak, dan lain sebagainya. Hanya ada satu
kegiatan yang biasa dilakukan oleh Pageta Sabbau yang tidak bisa dilakukan oleh
orang lain, yaitu menciptakan sesuatu dengan bahasanya.
Pada suatu hari istri Pageta Sabbau Rajiuk
bertanya kepada Pageta Sabbau, “Pageta, bahan makanan kita untuk besok tidak akan
ada lagi, karena hari ini akan habis.” Mendengar pertanyaan sang istri yang
tercinta kepadanya, Pageta Sabbau tersenyum sambil mengambil posisi duduk disudut
beranda rumah pas berhadapan dengan istrinya. Kemudian ia menjawab
istrinya,”hai istriku, kamu sangat kuatir sekali masalah makanan. Makanan
hanyalah sebuah makanan yang sifatnya habis dimakan dan susah mencarinya.”
Padahal saat itu di pulau Siberut hutannya memiliki sumber daya alam yang
sangat tinggi. Banyak buah-buahan yang menjadi makanan. Namun Pageta Sabbau
menyatakan bahwa makanan sulit untuk didapatkan.
Rajiuk bingung mendengar jawaban Pageta
Sabbau. Tetapi Pageta Sabbau mengetahui kebingungan sang istri. “ Sudahlah,
jangan kuatir. Nanti saya akan mencari stok makanan untuk hari selanjutnya”.
Akhirnya hati Rajiuk lega ketika Pageta Sabbau menyatakan untuk mencari stok
makanan mereka.
Hari semakin sore, Pageta Sabbau masih berada
di rumah yang terbuat dari kayu-kayu pilihan dan beratap ijuk enau sedang duduk.
Memang saat itu belum ada pohon sagu. Kemudian Rajiuk keluar dari dalam rumah
dan melihat Pageta Sabbau sedang santai sambil memperhatikan gagang parangnya.
Akhirnya, Rajiuk menegur Pageta Sabbau. “ Pageta, hari sudah sore. Engkau belum
pergi mencari makanan untuk besok.” Pageta Sabbau tidak melihat istrinya,
tetapi ia sudah mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri. Tidak lama,
Pageta Sabbau menjawab istrinya sambil berputar kearah dimana Rajiuk duduk,
dengan suara yang pelan ia pun berkata. “ Sabar…, saya akan pasti akan pergi
mencari makanan untuk besok. Tapi saya berharap engkau tetap bersabar. Itu
sudah tugas saya sebagai kepala rumah tangga kita.”
Mendengar jawaban sang suami, Rajiuk pun
Nampak tersenyum kecil. Ia tersenyum karena kata SABAR yang dikatakan tadi oleh
suaminya, Pageta Sabbau. Ketika Rajiuk dalam ABAR, Pageta Sabbau meletakkan
parangnya dan turun dari rumah. Setelah dua langkah ia berjalan, Pageta Sabbau
berbalik dan berkata kepada istrinya yang sedang asyik merajut tikar dari bahan
rotan. “Hai, istriku, kesinilah sebentar.” Rajiuk pun mengangkat kepalanya yang
sedang tertunduk memperhatikan susunan tikar rotan. “ Ada apa, Pageta ?” Rajiuk
berdiri perlahan dan kemudian berjalan mendekati ujung lantai rumah kea rah
suaminya. Kemudian Pageta Sabbau mengajak istrinya. “Turunlah dari rumah,
datanglah pada saya dan lihat!” Pageta
Sabbau menunjukkan tangannya kea rah kolong rumah. Rajiuk pun turun dari rumah,
kemudian ia menjongkok sambil matanya menyapu kolong rumah mereka. Ia pun
terkejut ketika ia melihat banyak sekali bahan makanan mereka di kolong rumah.
Kemudian Rajiuk berkata: “Hai, Pageta Sabbau, darimanakah engkau mendapatkan
makanan sebanyak ini ?” Pageta Sabbau menjawab : “Setiap orang yang berharap,
akan mendapatkan apa yang diharapkannya. Dan bagi siapa yang bersabar, ia akan
menerima dari hasil kesabarannya.” Rajiuk heran apa yang baru tadi dikatakan
oleh Suaminya. Ia tidak mengerti maksud kata-kata sang suami. Kemudian Pageta
Sabbau pun melanjutkan perkataannya : “Setiap yang percaya, kepadanya akan
diberikan karunia. Namun setiap orang yang diberikan karunia, akan menjadi
tanggun jawabnya.” Rajiuk sangat heran. Ia terpaku mendengar kata-kata
suaminya. Kata-kata itu terasa sejuk dalam sanubarinya. Ia melihat suaminya
seperti malaikat yang menemui dirinya dan menyampaikan kata-kata bijak.
Akhirnya, Rajiuk berani menanggapi suaminya.” Terus, bahan-bahan makanan ini
dari mana ?” Pageta Sabbau pun menjawab istrinya, berkata : “Semuanya ini saya
kumpulkan sendiri dari hutan tanpa engkau ketahui. Karena seekor binatang,
tidak boleh melebihi seorang suami.” Mendengar kebijakan keluar dari
kalimat Pageta Sabbau, Rajiuk merasa
lega. Ia pun berguman dalam hati, “
kiranya suami saya orang yang bijak.” Kemudian, dengan hati yang rendah, Rajiuk
berkata : “ Suamiku, engkau benar-benar bijak, baik perkataanmu maupun
perbuatanmu. Saya bersyukur punya suami seperti engkau.” Akhirnya, Pageta
Sabbau dan Istrinya, tersenyum bersama, sambil naik di teras rumah.
Hari mulai malam, Rajiuk mempersiapkan bahan
makanan yang harus dimasak untuk santapan malam. Ia Nampak begitu sibuk. Namun
kesibukannya itu ia menganggap sesuatu yang harus dilakukan. Ia memiliki
prinsip, bahwa ketika tidak melakukan,
tidak akan menjadi sesuatu dan tidak dapat sesuatu. Ia begitu senang
melakukan pekerjaannya. Selain memasak makanan, Rajiuk juga membantu Pageta
Sabbau di ladang bekerja.
Ketika makanan sudah masak, Rajiuk
menghidangkannya dan memanggil Pageta Sabbau yang sedang duduk menghitung
lidi,” Pageta, mari. Hidangan sudah siap.” Pageta Sabbau menoleh istrinya
seraya meletakkan lidi ditangannya, lalu ia bangkit berdiri menuju ditempat
makan yang sudah terhidangkan. Mereka pun makan bersama. Ketika sedang makan Pageta
Sabbau berkata kepada istrinya : “ Istriku, makanan yang engkau masak ini
sangat enak sekali. Oleh karena itu patutlah kita bersyukur kepada sang
Pemberi.” Maka istrinya menjawab : “Ya, pageta, kita harus bersyukur, karena
makanan ini pasti ada penciptanya.” Pageta Sabbau hanya terseyum kepada
istrinya. Mereka pun melanjutkan untuk menikmati hidangan yang telah tersedia.
Setelah selesai makan malam, mereka pun
bersantai sambil bebincang-bincang. Pageta Sabbau berkata kepada intrinya : “
Istriku, bumi ini sangat luas. kehidupan banyak sekali di dalamnya. Oleh sebab
itu, perlu kita jaga jangan sampai rusak.” Istri Pageta Sabbau memperhatikan
suaminya dengan seksama yang sedang berbicara. Ia tertarik dengan kata-kata
hikmah Pageta Sabbau. Dan Rajiuk bertanya : “Kalau begitu, siapakah yang
membuat bumi ini, Pageta ?” Pageta Sabbau tersenyum, dan berkata : “ Bumu dan
segala isinya diciptakan oleh seseorang yang tidak Nampak. Dia itu diluar
jangkauan kita sebagai manusia. Dia pintar, dan mengetahui segalanya, termasuk
isi hati kita. Dia memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan ombak, banjir, api,
angin, petir dan lain sebagainya. Dan Dia juga yang telah menciptakan kita.”
Istri Pageta Sabbau mulai penasaran. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh
suaminya. Istrinya pun bertanya : “ Kalau begitu, siapakah pencipta itu ?”
Pageta Sabbau menggeser kakinya sebelah kanan, melipatnya dengan kaki kiri, dan
berkata : “ Dia-lah Ulau Manua ( Tuhan). Rajiuk bertanya lagi dengan hati
penasaran : “ Siapakah Ulau Manua itu ?” Jawab Pageta Sabbau : “ Seperti yang
telah aku jelaskan padamu, bahwa Dia adalah pencipta bumi dan segala isinya.
Dia juga yang menciptakan langit dan segala isinya. Dia tahu apa yang kita
pikirkan dan apa yang kita inginkan. Segalanya dari Dia. Dalam segala
tindakan-Nya selalu yang baik untuk makhluk yang ada di bumi ini.” Rajiuk mulai
mengerti siapa yang dimaksud oleh Pageta Sabbau. Selama ini, pikiran Rajiuk
bahwa bumi beserta isinya tercipta begitu saja. Kiranya ada yang menciptakannya
yang memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan ciptaan-Nya sendiri. Maka, Rajiuk
pun bertanya lagi : “ Suamiku, segalanya sudah diberikan oleh Sang Pencipta,
terus, kita manusia apa yang harus kita lakukan ?” Pageta Sabbau menjawab
istrinya : “ Sebagai ciptaan-Nya yang harus kita lakukan adalah menjaga
ciptaan-Nya itu. Tidak boleh dirusak atau dihancurkan. Kita mengucapkan terima
kasih melalui ucapan kita kepada-Nya. Kita hanya merendah dan tidak boleh
sombong atas apa yang kita dapatkan dan miliki. Karena barang siapa yang
sombong apa yang didapatkan dan dimilikinya, akan diambil kembali oleh-Nya.”
Rajiuk benar-benar telah mengerti apa yang telah disampaikan suaminya yang
bijak itu. Ia harus mulai berbuat sesuatu yang lebih baik dan belajar
mensyukuri apa yang didapatkan.
Malam semakin larut. Pageta Sabbau mengajak
istrinya untuk istirahat, katanya : “Istriku kita harus istirahat, karena tubuh
kita juga harus kita jaga agar besok hari tubuh kita siap untuk melaksanakan
pekerjaan kita di ladang. Dengan tersenyum, mereka pun menuju tempat peraduan.
Malam itu mereka tertidur nyenyak. Dalam tidur pulas, Pageta Sabbau ditemui
oleh seseorang dalam mimpinya. Seseorang ini datang dengan sinar yang sangat
terang sekali. Berpenampilan bagaikan seorang raja. Di kepalanya Nampak oleh Pageta
Sabbau sebuah mahkota kecil dengan posisi terikat. Banyak atribut yang
berwarnah bergantungan dibadannya. Ada daun-daunan, kalung dan sebuah lonceng
kecil di sebelah tangan kanannya. Seseorang itupun berkata kepada Pageta Sabbau
: “ Pageta Sabbau. Aku datang menemui kamu. Karena ada sebuah tanggung jawab
yang Aku berikan kepadamu yang harus kamu lakukan. Kamu harus menjaga semua
yang telah Aku ciptakan. Dan kamu boleh mengambilnya untuk kebutuhanmu, tetapi
jangan sampai rusak. Aku akan menitipkan sebuah lonceng kecil ini sebagai tanda
dan tanggung jawab. Lonceng ini memiliki kemampuan sesuai apa yang kamu
inginkan.” Setelah seseorang itu selesai berkata, Ia pun lenyap dari mimpi
Pageta Sabbau. Kemudian, Pageta Sabbau pun sadar dari mimpinya dan bagun dari
tempat tidurnya. Ia melangkah keluar rumah tanpa diketahui oleh istrinya. Di
atas jenjang (Lokkot) ia melihat sebuah titik sinar. Pageta Sabbau pun
melangkah kea rah sinar tersebut. Sinar itu tidak redup sangat terang
benderang. Pageta Sabbau menjongkokkan badannya dan memperhatikan sebuah benda
yang menimbulkan sinar tersebut. Ia melihat benda itu seperti lonceng kecil. Ia
teringat mimpinya tadi. Pageta Sabbau berguman dalam hatinya: “ Mungkin inilah
yang dimaksud oleh seseorang yang datang dalam mimpi saya tadi. Sebuah lonceng
kecil yang memiliki kekuatan.” Pageta Sabbau tanpa ragu-ragu ia menjulurkan
tangannya dan memungut lonceng itu. Keajaiban pun terjadi. Ketika tangan kanan
Pageta Sabbau menyentuh lonceng, sinar lonceng tersebut hilang. Maka nampaklah
sebuah lonceng kecil di tangan Pageta Sabbau. Ia pun memperhatikan lonceng
tersebut. Walaupun malam hari tanpa lampu, ia bisa melihat gambar yang ada
dilonceng itu. Ada ukiran-ukiran yang dibuat begitu indah dan unik disana.
Kemudian dibawahnya ke dalam rumah dan disimpan di dalam sebuah peti kecil yang
terbuat dari kayu. Setelah menyimpan lonceng tersebut, Pageta Sabbau pergi
kembali ketempat tidurnya. Namun ia tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya
penuh dengan pertanyaan mengenai mimpinya serta lonceng yang bersinar itu.
Selain itu, Pageta Sabbau bertanya-tanya dalam hati mengenai seseorang yang
datang mengunjunginya dalam mimipinya serta tanggung jawab yang dijanjikan
kepdanya. Dalam keadaan hati yang penuh pertanyaan, tiba-tiba ia merasa nagntuk,
akhirnya tertidur. Kemudian Pageta Sabbau bermimpi lagi. Seseorang yang sama
datang menemuinya, dan berkata : “ Pageta Sabbau, bangunlah. Aku akan
memberitahukan Kamu sesuatu yang sangat penting.” Pageta Sabbau pun terbangun.
Kemudian ia matanya memeriksa disekeliling ruangan rumah, tetapi tidak ada
seseorang yang ia lihat. Pageta Sabbau, penasaran dengan mimpinya, ia pun
berdiri dan melangkah keluar rumah. Namun setelah ia membuka pintu rumah
(sausau), ia melihat sinar yang sangat terang sekali, seperti sinar yang pernah
ia lihat ketika mengambil sebuah lonceng kecil. Namun berbeda yang ada didalam
sinar itu. Bukan sebuah benda melainkan wujud seseorang. Tetapi dari batas
leher sampai ujung kepala tidak jelas. Maka seseorang dalam sinar itu, berkata
kepada Pageta Sabbau.” Pageta. Mendekatlah padaku. Kamu akan saya ajarkan
sesuatu.” Pageta Sabbau tidak menjawab, agak ragu-ragu, namun ia memutuskan
untuk melangkah dekat dengan seseorang itu. Setelah dekat seseorang itu duduk
menjongkok. Pageta Sabbau pun mengikutinya. Tiba-tiba sebuah lonceng kecil
berada ditangan seseorang itu. Kemudian seseorang itu mulai bersuara dalam
bentuk lagu sambil menggerakkan tangan kanannya dimana lonceng dipegang. Maka
terdengarlah suara lonceng berbunyi. Namun suara lonceng tersebut hanya
terdengar dalam satu nada saja. Walaupun bentuk satu nada, suara lonceng serta
lagu yang dilantunkan oleh seseorang itu sangat serasi dan terdengar sangat
indah. Mata Pageta Sabbau terbuai oleh suara lonceng dan lagu yang keluar dari
suara seseorang itu. Pageta Sabbau merasa mengantuk, dan akhirnya tertidur.
Tetapi di dalam tidurnya Pageta Sabbau jelas Nampak menyaksikan seseorang itu
memainkan lonceng dan mendengar suara lagunya. Setelah seseorang itu selesai
bernyanyi dan tangannya berhenti menggoyangkannya, ia pun berkata kepada Pageta
Sabbau : “ Pageta. Ini merupakan lagu memanggil saya. Setiap kamu memanggil
saya, kamu harus membunyikan lonceng kecil ini dan menyanyikan lagu yang baru
tadi aku nyanyikan. “ Walaupun seseorang itu berbicara, namun Pageta Sabbau
sedang tertidur pulas. Pageta Sabbau mengetahui apa yang disampaikan oleh
seseorang itu, walaupun dalam keadaan tertidur. Di dalam rumah istri Pageta
Sabbau, Rajiuk tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar. Ia masih tertidur
nyenyak. Di luar rumah Nampak seseorang itu memberikan petunjuk-petunjuk kepada
Pageta Sabbau yang masih tertidur telungkup. “ Segalanya sudah saya berikan
kepadamu. Sekarang kamu sudah memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu kepada
hal-hal yang baik.” Setelah selesai ia berbicara, tiba-tiba menghilang.
Bersamaan menghilangnya seseorang itu, Pageta Sabbau sadar dalam tidurnya. “Ah!
Apa yang terjadi pada saya ?” Sepertinya aku bermimpi dengan seseorang. Dan ia
memberikan kekuatan padaku.” Setelah terbangun dari tidur, Pageta Sabbau
mengingat semua apa yang telah disampaikan oleh seseorang itu kepadanya.
Perlahan ia bangkit berdiri dan melangkah ke dalam rumah. Sampai ditempat
tidur, ia melihat istrinya masih tertidur dengan nyenyaknya. Hari sebentar lagi
akan pagi. Bunyi burung-burung pemberi tanda hari belum terdengar. Pageta
Sabbau mengambil posisi lagi untuk tidur walaupun sebentar lagi akan para
binatang terbangun di sarang-sarangnya. Ia hanya ingin menemani istrinya
diperaduan. Rajiuk tidak mengetahu hal itu. Ia tetap dalam nyenyaknya.
Kicau burung pun terdengar menandakan hari
sudah pagi. Suara burung murai batu begitu indah terdengar. Dari ranting satu keranting
lainnya sambil bersiul seakan memberitahukan kepada makhluk lain bahwa hari ini
adalah hari yang cerah. Matahari sebentar lagi akan menampakkan sinarnya yang
berwarnah keemasan disela-sela dedaunan. Pageta Sabbau dan istrinya bangun dari
tempat tidur. Rajiuk langsung mengambil sebatang bambu yang berukuran besar
menuju sungai. Ia mengambil air bersih untuk memasak air minum. Pageta Sabbau
seperti biasa menyiapkan parang (lanjau) dan kampak (oggut) untuk diasah pada
sebuah bongka batu yang tergeletak dekat tonggak rumah. Ketika sedang asyik
mengasah parang, datanglah seorang laki-laki dari suku lain. Laki-laki tersebut
membawa busur, pisau yang terselip pada ikatan cawat disebelah kanan dan sebuah
parang disebelah tangan kananya. Laki-laki itu pun menyapa Pageta Sabbau yang
asyik menyiram parangnya dari sisa-sisa batu asah yang melekat di parangnya. “
Anai leu Ita (apa kabar).” Pageta Sabbau menoleh kearah asanya suara tersebut.
Setelah itu Pageta Sabbau menjawab : “O’o’, anai leu ita, saraina (ya, kabar
baik, saudara).” Mereka pun berjabat tangan. Pageta Sabbau pun mengajak
laki-laki tersebut duduk diserambi rumah. Baru sebentar mereka duduk, istri
Pageta Sabbau pun kembali dari sungai. Ia melihat laki-laki tersebut dan sambil
tersenyum ramah memberikan salam : “ Anai leu ita.” Laki-laki itu pun menjawab
: “ Anai leu ita.” Kemudian Rajiuk masuk ruangan rumah dan mulai mepersiapkan
diri untuk memasak air yang baru diambil dari sungai. Pageta Sabbau dan
laki-laki itu mulai berbincang-bincang. Pageta Sabbau pun bertanya kepada
laki-laki itu : “ Siapakah nama saudara?” Dan dari suku mana ?” Maka jawab
laki-laki itu : Nama saya Lipoik. Saya berasal dari suku Saleu.” Kemudian
Pageta Sabbau bertanya lagi : “ Dimanakah letak wilayah suku kamu?” Maka jawab
laki-laki itu sambil menunjukkan tangan kanannya ke rah Selatan : “ Letak
wilayah suku saya, jauh dari sini. Untuk menuju wilayah suku kami, kita menepuh
perjalanan selama dua hari. Kita bermalan ditengah hutan belantara.” Mendengar
penjelasan Lipoik, Pageta Sabbau merasa kagum.
Ia merasa kagum atas kesabaran yang dimiliki oleh Lipoik. Dua hari
perjalanan tanpa ada ransum yang dibawa Lipoik. Sambil menepuk bahu Lipoik
berkatalah Pageta Sabbau kepadanya : “ Saudara, aku merasa kagum kepadamu. Kamu
sangat sabar dalam perjalanan tanpa ransum. Tetapi kamu akhirnya sampai di
tempat ini.” Namun dengan tersenyum, Lipoik menjawab : “ Saudara, saya minta
maaf. Sejak awal kita berbicara sampai sekarang, saya belum mengetahui nama
saudara.” Pageta Sabbau tersenyum dan berkata : “ Maafkan saya saudara.
Bukannya aku lupa memberitahu namaku kepadamu. Tetapi saudara tidak menenyakan
hal itu. Karena barang siapa yang ingin tahu harus bertanya. Barang siapa yang
sudah tahu patut untuk diam dan memberitahukan sesuatu yang ia ketahui itu saat
orang ingin mengetahuinya.” Sambil tersenyum juga, Lipoik menjawab : “ Oh.
Maafkan saya saudara, saya yang lupa bertanya kepada saudara. Jadi, siapakah
nama serta suku saudara?” Maka, Pageta Sabbau menjawab dengan tenang : “ Nama
saya saudara adalah Pageta Sabbau. Saya berasal dari suku Sabbau, dan saya
dengan istri saya tinggal disini.” Lipoik menganggukkan kepalanya mendengar
jawaban dari Pageta Sabbau yang tenang dan berwibawa. Sedang asyik
berbincang-bincang, istri Pageta Sabbau, Rajiuk datang dan menyodorkan dua
potong bambu yang berisi air panas yang
telah dicampur air enau untuk diseduk oleh Pageta Sabbau dan Lipoik. “ Ini
airnya, minumlah supaya hangat badan kalian.” Mereka pun menerimanya. Pageta
Sabbau pun mempersilahkan Lipoik untuk meminum airnya. “ Silahkan saudara
Lipoik. Kita minum airnya agar badan kita hangat.” Secara bersamaan mereka pun
mulai menikmati minumannya masing-masing.
Setelah meminum air yang hangat, Pageta Sabbau bertanya kepada Lipoik, katanya
: “ Saudara, Lipoik sebenarnya hendak mau kemana ?” Jawab Lipoik : “ Saya mau
mencari rotan untuk pengikat tonggak-tonggak rumah kami. Saya tidak tahu daerah
mana ini.” Sambil menatap Pageta Sabbau. Kemudian Pageta Sabbau menggeser kaki
kanannya agar Nampak ia duduk bersila. Pageta Sabbau menjawab Lipoik : “
Saudara Lipoik, ini daerah suku kami. Daerah ini namanya “Matalu” (rawan
banjir). Tetapi kami sudah menanami tobek (pohon baru) dipinggir sungai agar
tidak terjadi pelebaran sungai.” Namun Lipoik merasa mendapat suatu pengetahuan
dari penjelasan Pageta Sabbau mengenai cara mempertahankan pinggir sungai agar
tidak melebar. “ Saudara, Pageta Sabbau, darimanakah saudara tahu cara
melindungi pinggir sungai? Apakah ada yang memberitahukan saudara ?” Jawab
Pageta Sabbau : “ Sama sekali tidak ada, saudara Lipoik. Pengetahuan itu ada
sejak terciptanya alam ini. Alatnya sudah ada pada manusia itu sendiri yang
diberikan oleh “Ulau Manua” (Tuhan). Tinggal kita yang mau mengelolahnya dan
mau bersahabat dengan alam kita.” Lipoik sangat kagum atas penjelasan Pageta Sabbau.
“ Mmmm…, begitu kiranya, bahwa kita harus mempelajari dan bersahabat dengan
alam, sehingga alam juga mau bersahabat dengan kita, begitu kan Pageta?” Jawab
Pageta sabbau dengan singkat : “ Betul.”
Dalam keadaan bercakap-cakap, istri Pageta
Sabbau, Rajiuk hanya terdiam sambil tersenyum mendengar apa yang disampaikan
suaminya kepada Lipoik. Sekali-sekali ia melihat kepada Suaminya yang sedang
berbicara, kemudian sekali-sekali ia juga melihat Lipoik yang mulai memahami
maksud suamianya itu.
Tak terasa matahari sudah mulai condong
diufuk Barat. Pageta Sabbau pun melirik ke langit untuk memperhatikan waktu
yang sedang berjalan melalui matahari. Kata Pageta Sabbau : “ Seumpama manusia
yang baru lahir, masih bayi. Seiring dengan berjalannya waktu, bayi tersebut
semakin dewasa. Sampai tua hingga menutup mata. Demikianlah juga dengan
matahari. Ketika waktunya tiba, maka bumi akan meredup tanpa sinar lagi. Oleh
karena itu, saudara Lipoik hari sudah mulai sore. Jadi kita cukupkan dulu
pembicaraan kita. Jika saudara berkenan tinggal atau menginap disini, saya
tidak keberatan karena semakin kita banyak mengenal orang lain, semakin banyak
pula saudara kita dan semakin banyak juga
pengetahuan kita. Semakin kita banyak bersaudara, semakin pula kita
bersama menjadikan alam ini baik.” Lipoik terlihat menganggukkan kepala dan
mengangkat kepalanya menatap Pageta Sabbau, katanya : “ Sungguh mulia hati
saudara, tetapi saya harus berangkat kembali lagi ke kampung saya, karena
disana saudara-saudara saya pasti sedang menunggu saya untuk keperluan pengikat
rumah kami. Jadi saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan saudara
serta pengetahuan yang telah saudara berikan pada saya. Oleh karena itu saya
mohon diri.” Lipoik pun melangkah kehalaman rumah dan Pageta Sabbau bersama
istrinya memandang Lipoik yang sedang berjalan hingga tubuhnya hilang dari
daun-daun pisang.
Pageta Sabbau dengan Rajiuk akhirnya merasa
kesepian kembali. Rumah sunyi kembali. Hanya sekali-sekali terdengar suara
burung kecil yang kebetulan terbang melewati rumah. Akhirnya mereka pun masuk
ke dalam rumah. Perlahan Pageta Sabbau mendekati peti kecil tempat diamana ia
menyimpan sebuah benda dari seseorang yang tidak ia kenal. Pintu peti pun
dibuka Pageta Sabbau. Ia melihat sebuah lonceng kecil yang unik dan memendam
misteri. Benda tersebut diangkat dari tempatnya. Kemudian Pageta Sabbau
memperhatikan lonceng itu. Ia pun berguman : “ Lonceng ini bagus sekali
bentuknya.” Kemudian Pageta Sabbau terus memperhatikan lonceng itu, kemudian ia
berguman lagi : “ Lonceng ini terbuat dari besi kuning.” Di dapaur istri Pageta
Sabbau Rajiuk sedang sibuk mempersipakan bahan makanan untuk dimasak. Rajiuk
tidak memperhatikan Pageta Sabbau yang sedang memegang lonceng. Kemudian Pageta
Sabbau mulai berpikir untuk memberitahukannya kepada istrinya mengenai
keberadaan lonceng tersebut. “ Apakah saya harus beritahukan benda ini kepada
istri saya.” Pageta Sabbau tertegun sejenak. “ Ya, sebaiknya saya
harus memberitahukannya agar istri saya juga memahami keberadaan benda
ini.” Pageta Sabbau pun berdiri. Sambil menjinjing lonceng di tangan kanannya
ia mendekati Rajiuk dan berkata : “ Istriku.” Rajiuk menoleh kepada Pageta
Sabbau dan menjawab “ Ya, Pageta.” Kemudian Pageta Sabbau memperlihatkan
lonceng disebelah tangan kanannya kepada istrinya dan berkata : “ Lihatlah ini.
Ada lonceng kecil.” Rajiuk pun bertanya : “ Darimanakah lonceng itu ?” Pageta
Sabbau pun Menjawab : “ Lonceng ini diberikan oleh seseorang melalui mimpi saya
semalam. Saya tidak tahu siapa orangnya. Begitu terang ketika ia datang. Dan
akan gelap ketika ia pergi.” Rajiuk tidak mengerti apa maksud suaminya. Ia pun
berdiri dan berkata : “ Maaf Pageta, saya tidak mengerti apa yang engkau
maksudkan.” Pageta Sabbau pun mencari posisi untuk duduk menjelaskan maksud
kata-katanya tadi kepada istrinya, katanya : “ Seseorang itu sepertinya bukan
manusia. Ia memiliki kekuatan diluar kekuatan manusia. Semua tubuhnya terang
bagaikan matahari. Dan lonceng ditangan saya ini juga memiliki terang saat saya
mengambilnya. Saya berpikir, bahwa yang datang dalam mimpi saya itu adalah
‘Ulau Manua” yang menciptakan semua yang ada di bumi ini.” Rajiuk semakin tidak
percaya atas kata-kata suaminya. “ Tetapi apa maksudnya ia memberikan lonceng
itu. Apa manfaatnya.” Pageta Sabbau pun menjelaskan tujuan seseorang yang
datang dalam mimpinya : “ Ia menyatakan bahwa lonceng ini memiliki kekuatan
yang dasyat. Apa yang kita inginkan harus membunyikan lonceng ini, maka yang
kita inginkan itu pasti dapat atau terjadi.” Rajiuk semakin heran dan berkata :
“ Kalau begitu lonceng itu bukan lonceng sembarangan. Kita harus hati-hati
untuk menginginkan sesuatu. Kita jangan sampai salah sehingga membuat bencana.”
Pageta Sabbau pun menanggapi kata istrinya : “ Betul istriku. Kita jangan
sampai ambisi atas lonceng ini. Dan lonceng ini jangan sampai jatuh ketangan
orang yang tidak bertanggung jawab.” Rajiuk pun setuju apa yang dikatakan oleh
suaminya : “Betul, kita harus rahasiakan keberadaan lonceng ini dari dunia
luar. Hanya kita yang mengetahuinya. Jangan sampai diketahui oleh orang lain.”
Pageta Sabbau pun berdiri dari tempat duduknya. Perlahan ia melangkah menuju
peti dimana lonceng itu disimpan. Pageta Sabbau meletakkan lonceng itu kembali
ditempatnya, kemudian pintu peti ditutup rapat-rapat.
Malam pun tiba. Setelah menyantap makan
malam, akhirnya Pageta Sabbau dan Rajiuk istirahat menunggu hari esok lagi.
Malam itu tidak terjadi sesuatu terhadap Pageta Sabbau. Ia begitu lelap
tertidur sehingga terdengar suara dengkur memecah kesunyian malam itu.
Pagipun tiba. Ayam jantan berkokok seakan
memberitahukan kepada kaum ibu-ibu untuk bangun memasak di dapur. Memang itu
sudah suatu kebiasaan ibu-ibu dulu sampai sekarang. Mereka akan bangun pagi
setelah ayam jantan berkokok menandakan hari sudah subuh. Dan kaum ibu-ibu akan
bangun untuk memasak makanan. Begitu juga dengan Rajiuk. Ia bangun untuk
menyiapkan masakan pagi itu. Setelah hari mulai terang, Pageta Sabbau bangun
dari tempat tidurnya. Walaupun ia memiliki istri, namun tempat tidur mereka
terpisah. Hal ini disebabkan karena Pageta Sabbau selalu melakukan pantangan.
Kemudian ia melangkah mendekati tempat dimana kampak dan parangnya ia simpan.
Perlahan tangan kanannya menjulur ke atas untuk meraih sebuah parang yang
terselip di sela-sela atap rumah. Setelah itu ia pun memungut sebuah kampak
yang tergeletak di lantai. Ia melangkah keluar mendekati batu asah yang
terletak di tanah. Dengan air yang ada di bambu ia menyiram parangnya dan
mengasahkannya di batu asah yang terletak pas dihadapannya. Setelah mengasa
parang, ia pun memungut kampak dan menyiramnya, kemudian mengasahnya dengan
perlahan. Setelah siap mengasah peralatan kerjanya, Pageta Sabbau berdiri dan
pergi menuju sungai kecil yang tidak jauh dari rumah. Disungai ia mencuci muka
dan membersihkan tangan dan kakinya. Setelah itu ia kembali lagi ke rumah.
Kemudian Rajiuk yang sudah siap memasak
makanan memanggil suaminya : “Pageta, mari sarapan dulu.” Pageta Sabbau
langsung masuk ke dalam rumah, dan duduk didekat istrinya. Kemudian Pageta
Sabbau berkata kepada istrinya : “ Istriku, kita harus bersyukur pada hari ini
karena kita bisa makan dan menikmati alam yang indah ini.” Jawab Rajiuk : “Ya,
Pageta. Kita beruntung tinggal disini, karena alam disini banyak sumber daya
yang tersedia.” Mereka pun menikmati sarapan pagi.
Setelah selesai sarapan, Pageta Sabbau
berkata kepada istrinya : “Istriku hari ini saya akan pergi ke ladang bekerja.
Jadi tolong jaga rumah kita. Benda itu jangan kamu sentuh.” Jawab Rajiuk :
“Baik Pageta, jangan kuatir. Saya akan menjaga rumah sampai engkau kembali.”
Pageta Sabbau berkata lagi : “ Tolong persiapkan air minum untuk saya bawa ke
ladang, istriku.” Jawab Rajuik : “ Baik.” Rajiuk pun berlalu dihadapan Pageta
Sabbau. Tak lama kemudian Rajiuk datang dan membawa sebatang bambu yang telah berisi
air yang sudah masak. Kemudian diberikannya kepada suaminya. Pageta Sabbau pun
menerima bambu itu, kemudian melangkah keluar untuk mendapatkan parang dan
kampaknya. Tanpa basa-basi Pageta Sabbau bergerak melangkah pergi tanpa menoleh
kembali kebelakang. Sang istri sudah
memahami hal itu. Pada prinsipnya setiap melakukan sesuatu jangan ada keraguan.
Itulah prinsip yang berlaku pada keluarga Pageta Sabbau. Akhirnya bayangan
Pageta Sabbau hilang dari pandangan sang istri. Pageta Sabbau terus berjalan
menuju ladang. Dalam perjalanan ia dihadang oleh seekor ular raksasa. Kepala
ular itu Nampak bertengger sebuah mahkota dan memiliki kalung yang terbuat dari
manik-manik yang berwarnah-warnih. Ular Raksasa itu pun tertawa, “ha..ha..ha..,
mau kemanakah engkau hai manusia ?” Melihat ular raksasa itu, Pageta Sabbau
terkejut. Ia mencoba bersembunyi dibalikabbau. Pageta Sabbau mulai merasa
takut, dan berseru : “ Hai ular ! Jangan ganggu saya ! Saya hanya lewat pergi
ke ladang !” Ular raksasa itu setinggi sepuluh meter. Sekali-sekali kepalanya
diturunkan untuk mendekati Pageta Sabbau dan menjilat wajah Pageta Sabbau. Maka
kata ular itu : “ Mmmm… ini sarapan yang lezat sekali. Hari ini saya akan
berpesta pora dengan santapan manusia seperti kamu.” Pageta Sabbau pun berusaha
untuk memberanikan diri dan mencoba menghilangkan rasa takut yang sedang
berkecamuk dalam hatinya. Kemudian ia berkata : “ Kalau begitu, saya akan
menantang kamu. Kita akan bertarung terlebih dahulu.” Jawab sang ular raksasa :
‘Jangan sok melawan kamu hai manusia. Kamu tidak bisa menandingi kekuatan yang
kumiliki.” Pageta Sabbau pun menjawab dengan menantang : “ Jangan kau anggap
bahwa dirimu itu besar dan seenaknya
kamu meremehkan makhluk kecil. Saya tidak takut kepadamu.” Di rumah rajiuk
mulai tidak enak perasaan. Ia berjalan mondar-mandir di dalam rumah. Kemudian
merasa haus dan mengambil sebatang bambu yang berisi air. Namun sebelum
tangannya menyentuh bambu tersebut, terdengarlah suara lonceng kecil berbunyi
di dalam peti. Perlahan rumah mulai bergetar seakan ada gempa bumi. Bambu yang
berisi air langsung jatuh dihadapan Rajiuk. Airnya tumpah dan bambu pun pecah.
Rajiuk terkejut bukan kepalang. Ia melirik kearah suara lonceng, dan melihat
ada sinar yang keluar dari dalam peti. Tiba-tiba, pintu peti itu terbuka.
Rajiuk mulai takut. Dalam keadaan ketakutan, Rajiuk dikejutkan lagi oleh suara,
kata suara itu : “Rajiuk, jangan takut. Tenagkan dirimu. Suamimu dalam bahaya,
ia perlu pertolongan.” Rajiuk mulai menenangkan hatinya sambil memperhatikan
lonceng itu di dalam peti. Tiba-tiba, lonceng itu hilang bersama sinarnya
dihadapan Rajiuk. Di hutan Pageta Sdabbau sedang menantang Ular raksasa untuk
bertarung. Kata Pageta Sabbau kepada Ular itu : “Hei ular ! Kalau berani, ayo,
maju.” Barusebentar Pageta Sabbau berkata, mendadak muncul sinar yang terang
menyelimuti seluruh tubuh Pageta Sabbau. Sang ular pun terkejut. Sepertinya ia
pernah melihat sinar terang itu, tetapi lupa dimana tempatnya. Ular pun
berguman dalam hatinya : “ Sepertinya saya pernah melihat sinar ini, tapi
dimana, ya ?” Tiba-tiba tubuh Pageta Sabbau terangkat ke atas melewati kepala
ular. Namun ular tersebut mulai gemetar ketika suara lonceng kecil terdengar
berbunyi. Ular raksasa itupun berlutut,
dan berkata : “ Ampun, ampun, saya mengaku kalah. Kalau begitu apa permohonanmu
kepad saya, hai manusia ?” Jawab Pageta Sabbau : “ Saya menginginkan kamu hanya
menjadi sahabatku, dan tidak melakukan kejahatan di bumu ini.” Jawab sang ular
: “ Kalu begitu baiklah. Saya akan setia pada kamu. Namun sebelumnya saya perlu
mengetahui namamu. “ Jawab Pageta Sabbau : “ Baiklah. Nama saya Pageta Sabbau.
Saya berasal dari daerah sebelah Selatan. Maka kata ular lagi : “ Terima kasih.
Saya telah mengetahui nama kamu. Oleh karena itu, apa pun permintaan kamu,
pasti akan saya kabulkan. Kamu bisa memanggil saya, kapan kamu mau.” Jawab
Pageta Sabbau : “ Baiklah, terima kasih Ular.” Kemudian ular menjawab : “
Sama-sama Pageta Sabbau. Kalau begitu saya mohon diri.” Jawab Pageta Sabbau : “
Baiklah, selamat jalan.” Pageta Sabbau pun beranjak pergi dengan hati yang
lega. Ia telah mendapatkan sahabat walaupun bukan manusia. Kemudian ia
menyusuri jalan setapak untuk mencapai ladang.
Setelah sampai di ladang Pageta Sabbau
meletakkan ransum yang dibawanya dari rumah, dan mulai melakukan pekerjaan.
Hari mulai siang. Terik matahari membuat
tenggorokan ingin dibasahi oleh air. Suara Sungai terdengar mengalir disamping ladang Pageta Sabbau seakan
memanggil dirinya untuk membasahkan tubuhnya yang sedang kepanasan. Namun
Pageta Sabbau orangnya bijak. Ia telah membawa air yang telah disiapkan oleh
isterinya dari rumah sebagai pelepas dahaganya saat istirahat.
Pageta Sabbau pun mulai mencari tempat
istirahat. Memang di ladang belum ada gubuk untuk istirahat. Sambil berjalan
pelan ia menuju sebuah pohon kayu yang tumbang akibat angin kencang. Setelah
mendekat, ia memperhatikan sebentar pohon tersebut sambil melihat dimana posisi
yang paling baik untuk melepaskan lelahnya. Pageta Sabbau akhirnya duduk pada
batang pohon tersebut di bagian pangkalnya. Kebetulan di bagian pangkal pohon
terdapat pohon kecil yang tumbuh sebagai pelindung dari terik matahari. Ia pun
merebahkan badannya sambil bersandar pada batang pohon kecil tersebut. Kampak
dan parang diletakkan tidak jauh dari tempat ia istirahat.
Bersambung hal. 1
Hari semakin sore, matahari mulai condong di ufuk barat. Pageta Sabbau pun terjaga, ia kemudian mencari arah suara sungai mengalir untuk mencuci muka dan membasahkan rambutnya yang panjang. Memang dahulu baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki rambut panjang. Sedang menikmati sejuknya air sungai, tiba-tiba muncul seekor kodok besar.
" Hai sobat, apa kabar?" Sapa kodok dengan bertanya.
Pageta Sabbau terkejut kemudian ia meluruskan posisi badannya tegak.
"Oh...saya mau mencuci muka, tadi saya tertidur lelap di ladang," Terang Pageta Sabbau sambil mengibaskan tangannya yang basah.
" Saya yang menjaga sungai ini, dari dulu nenek moyang kami sampai sekarang kami selalu menjaganya agar tidak ada yang merusak atau mencemarinya," kata kodok menjelaskan dengan menunjuk muara sungai.
" Kalau begitu boleh ndak kita bersahabat ?" Tawar Pageta Sabbau dengan senyum.
" Oh..kalau kami suku kodok sudah adat kami untuk menjalin persahabatn dengan pihak siapapun, karena kami suku kodok yang selalu ingin kedamaian," terang kodok dengan tenang tapi tidak sombong.
"Baiklah kalau bergitu, terima kasih atas airnya saudara kodok. Jika ingin berkunjung datanglah ketempat saya disebelah Timur, saya dengan senang hati menerima saudara," kata Pageta Sabbau sambil tersenyum dan mundur dihadapan kodok.
"Baiklah saudara, saya sewaktu-waktu akan datang berkunjung ketempat saudara," kata kodok.
Pageta Sabbau pun melangkah untuk pulang ke rumah. Setelah sampai dirumah Pageta Sabbau langsung disambut oleh istrinya Rajiuk.
"Sudah pulang ale ?" Sapa sang isteri.
"Ya,"jawab Pageta Sabbau dengan tenang. Kemdian ia meletakkan semua alat-alat yang dibawanya. Sementara matahari sudah tidak diranting langit lagi sehingga tidak kelihatan dan hari mulai malam. Rajiuk mulai menyiapkan makan malareka pun makan. Setalah makan Pageta Sabbau menceriterakan apa-apa saja yang dialami selama diladang. Istrinya Rajiuk mendengarkan ceritera suaminya begitu serius, namun tidak bertanya. Malam semakin larut dan akhirnya merekapun tidur.
episode 2
Pageta Sabbau mampu menciptakan
Pagi pun tiba, suara kecau burung bersahutan dari ranting satu keranting lainnya. Pageta Sabbau dan isterinya bangun pagi dan Rajiuk langsung melaksanakan tugasnya memasak ransum untuk suaminya ke ladang. Sedangkan Pageta Sabbau mempersiapkan peralatannya untuk dibawa ke ladang. Pageta Sabbau mulau mengasah parang dan kampaknya.
Matahari mulai menampakkan sinar keemasannya dibalik daun-daun pohon di dekat rumah mereka. Rajiuk mempersiapkan bekal suaminya.
" Ale, ini semua ransum untuk di ladang." Kata Rajiuk dengan suara datar dan tenang.
" Terima kasih, kalau begitu saya berangkat dulu," kata Pageta Sabbau meminta pamit kepada sang isteri tercinta.
Dalam perjalanan ia bertemua seseorang yang tidak dikenalnya. Sepertinya seorang laki-laki, tetapi masih muda dan dari kepala sampai kekaki bersinar keemasan. Pageta Sabbau pun memperhatikan seseorang tersebut dengan heran. Namun seseorang itu posisinya membelakangi pageta Sabbau.
"Maaf Saudara, siapakah saudara ?" Tanya Pageta Sabbau dengan suara sedikit gemetar.
" Saya dari langit, ingin bertemu denganmu Pageta Sabbau,"jawab orang tersebut.
"Kenapa saudara kenal nama saya?"Heran Pageta Sabbau.
" Ya, saya menetahui semuanya. Kamu orang baik, makanya saya datang menemuimu karena ada sesuatu yang harus kamu lakukan di bumi kecil ini Pageta Sabbau," terang orang itu tanpa bergeming dari tempatnya ia berdiri.
" Apa itu?" Tanya Pageta Sabbau dengan penasaran.
"Saya akan memberikan kemampuan kamu untuk menciptakan apa saya yang kamu inginkan,"kata seseorang itu dengan mengacungkan telunjuk jarinya ke atas.
" Maaf saudara, saya tidak pantas menerima itu, saya hanya manusia biasa yang tidak tau apa-apa," kata Pageta Sabbau merasa tidak pantas menerima sesuatu hal yang baik.
" Justru kamu orang biasa saya memberikan kemampuan itu," kata seseorang itu dengan membalikkan posisi kalimat Pageta Sabbau.
" Apa yang harus saya lakukan?" Tanya Pageta Sabbau dengan ragu-ragu dan sedikit mundur satu langka kebelakang.
" Yang jelas kamu akan berbuat baik. Sekarang bersiaplah menerima kekuatan dari saya," kata seseorang itu. Kemudian seseorang tersebut tiba-tiba membalikkan tubuhnya ke arah Pageta Sabbau dan menjulurkan tangannya ke arah Pageta Sabbau kemudian Pageta Sabbau langsung berlutut memandang seseorang itu dengan sinar yang betul-betul mensilaukan mata. Tangan seseorang itu keluar sinar putih kearah Pageta Sabbau dan badan Pageta Sabbau bersinar semua dan gemetar. Kemudian sinar putih itu pun hilang bersamaan menghilangnya seseorang itu.
Pageta Sabbau pun berdiri dan memeriksa tubuhnya. Ia merasa sangat kuat dan sehat. Kemudian ia memandang ke langit dan dilangit nampak cerah, kicauan burung bersahutan begitu riang seakan bumi merupakan tempat hidup yang layak bagi semua makhluk.
"Apa yang harus saya lakukan ? Mengucapkan terima kasih saja tidak sempat. Sipakah orang itu ya?" Bisik Pageta Sabbau dalam hati penuh dengan tanda tanya. Kemudia ia melanjutkan perjalannya menuju ladang. Setelah sampai di ladang ia duduk istirahat dan ia masih m,erasa penasaran atas kejadian tadi. Ia ingin mencoba kekuatannya yang diberikan oleh seseorang.
" Saya coba dulu apa yang diberikan ini pada saya," kata Pageta Sabbau dalam hati. Kemudian ia berdiri dan mulai mencoba kekuatannya.
" Hai ladang, tumbuhlah tanaman pisang, kelapa dan umbi-umbian," kata pageta Sabbau.
Tiba-tiba pohon pisang, kelapa dan umbi-umbian tumbuh di ladang Pageta Sabbau dan sudah berbuah. Maka terkejutlah Pageta Sabbau bukan kepalang.
"Wah... apakah ini yang dimaksud oleh seseorang itu ? Kata Pageta Sabbau masih penasaran juga. Tiba-tiba terdengarlah suara yang tidak diketahui daria mana asal suara tersebut dan suara siapa.
"Hai Pageta Sabbau, itulah kekuatan yang saya berikan kepadamu. Kamu bisa menciptakan seperti saya menciptakan. Jagalah kekuatan itu untuk seluruh anak cucumu, jangan sekali-sekali kamu salah gunakan untuk kejahatan," seru suara itu dengan bergetar.
"Siapakah anda? Tanya Pageta Sabbau setengah berteriak.
"Kamu tidak perlu mengetahui siapa saya, yang jelas kamu mau panggil saya apa terserah," terang suara itu.
"Kalau begitu saya panggil anda bapak (ukkui)," kata Pageta Sabbau.
Namun suara itu tidak terdengar lagi, hilang entah kemana. Pageta Sabbau pun berdiri terpaku tanpa kata-kata.
"Baiklah kalau bergitu, terima kasih atas airnya saudara kodok. Jika ingin berkunjung datanglah ketempat saya disebelah Timur, saya dengan senang hati menerima saudara," kata Pageta Sabbau sambil tersenyum dan mundur dihadapan kodok.
"Baiklah saudara, saya sewaktu-waktu akan datang berkunjung ketempat saudara," kata kodok.
Pageta Sabbau pun melangkah untuk pulang ke rumah. Setelah sampai dirumah Pageta Sabbau langsung disambut oleh istrinya Rajiuk.
"Sudah pulang ale ?" Sapa sang isteri.
"Ya,"jawab Pageta Sabbau dengan tenang. Kemdian ia meletakkan semua alat-alat yang dibawanya. Sementara matahari sudah tidak diranting langit lagi sehingga tidak kelihatan dan hari mulai malam. Rajiuk mulai menyiapkan makan malareka pun makan. Setalah makan Pageta Sabbau menceriterakan apa-apa saja yang dialami selama diladang. Istrinya Rajiuk mendengarkan ceritera suaminya begitu serius, namun tidak bertanya. Malam semakin larut dan akhirnya merekapun tidur.
episode 2
Pageta Sabbau mampu menciptakan
Pagi pun tiba, suara kecau burung bersahutan dari ranting satu keranting lainnya. Pageta Sabbau dan isterinya bangun pagi dan Rajiuk langsung melaksanakan tugasnya memasak ransum untuk suaminya ke ladang. Sedangkan Pageta Sabbau mempersiapkan peralatannya untuk dibawa ke ladang. Pageta Sabbau mulau mengasah parang dan kampaknya.
Matahari mulai menampakkan sinar keemasannya dibalik daun-daun pohon di dekat rumah mereka. Rajiuk mempersiapkan bekal suaminya.
" Ale, ini semua ransum untuk di ladang." Kata Rajiuk dengan suara datar dan tenang.
" Terima kasih, kalau begitu saya berangkat dulu," kata Pageta Sabbau meminta pamit kepada sang isteri tercinta.
Dalam perjalanan ia bertemua seseorang yang tidak dikenalnya. Sepertinya seorang laki-laki, tetapi masih muda dan dari kepala sampai kekaki bersinar keemasan. Pageta Sabbau pun memperhatikan seseorang tersebut dengan heran. Namun seseorang itu posisinya membelakangi pageta Sabbau.
"Maaf Saudara, siapakah saudara ?" Tanya Pageta Sabbau dengan suara sedikit gemetar.
" Saya dari langit, ingin bertemu denganmu Pageta Sabbau,"jawab orang tersebut.
"Kenapa saudara kenal nama saya?"Heran Pageta Sabbau.
" Ya, saya menetahui semuanya. Kamu orang baik, makanya saya datang menemuimu karena ada sesuatu yang harus kamu lakukan di bumi kecil ini Pageta Sabbau," terang orang itu tanpa bergeming dari tempatnya ia berdiri.
" Apa itu?" Tanya Pageta Sabbau dengan penasaran.
"Saya akan memberikan kemampuan kamu untuk menciptakan apa saya yang kamu inginkan,"kata seseorang itu dengan mengacungkan telunjuk jarinya ke atas.
" Maaf saudara, saya tidak pantas menerima itu, saya hanya manusia biasa yang tidak tau apa-apa," kata Pageta Sabbau merasa tidak pantas menerima sesuatu hal yang baik.
" Justru kamu orang biasa saya memberikan kemampuan itu," kata seseorang itu dengan membalikkan posisi kalimat Pageta Sabbau.
" Apa yang harus saya lakukan?" Tanya Pageta Sabbau dengan ragu-ragu dan sedikit mundur satu langka kebelakang.
" Yang jelas kamu akan berbuat baik. Sekarang bersiaplah menerima kekuatan dari saya," kata seseorang itu. Kemudian seseorang tersebut tiba-tiba membalikkan tubuhnya ke arah Pageta Sabbau dan menjulurkan tangannya ke arah Pageta Sabbau kemudian Pageta Sabbau langsung berlutut memandang seseorang itu dengan sinar yang betul-betul mensilaukan mata. Tangan seseorang itu keluar sinar putih kearah Pageta Sabbau dan badan Pageta Sabbau bersinar semua dan gemetar. Kemudian sinar putih itu pun hilang bersamaan menghilangnya seseorang itu.
Pageta Sabbau pun berdiri dan memeriksa tubuhnya. Ia merasa sangat kuat dan sehat. Kemudian ia memandang ke langit dan dilangit nampak cerah, kicauan burung bersahutan begitu riang seakan bumi merupakan tempat hidup yang layak bagi semua makhluk.
"Apa yang harus saya lakukan ? Mengucapkan terima kasih saja tidak sempat. Sipakah orang itu ya?" Bisik Pageta Sabbau dalam hati penuh dengan tanda tanya. Kemudia ia melanjutkan perjalannya menuju ladang. Setelah sampai di ladang ia duduk istirahat dan ia masih m,erasa penasaran atas kejadian tadi. Ia ingin mencoba kekuatannya yang diberikan oleh seseorang.
" Saya coba dulu apa yang diberikan ini pada saya," kata Pageta Sabbau dalam hati. Kemudian ia berdiri dan mulai mencoba kekuatannya.
" Hai ladang, tumbuhlah tanaman pisang, kelapa dan umbi-umbian," kata pageta Sabbau.
Tiba-tiba pohon pisang, kelapa dan umbi-umbian tumbuh di ladang Pageta Sabbau dan sudah berbuah. Maka terkejutlah Pageta Sabbau bukan kepalang.
"Wah... apakah ini yang dimaksud oleh seseorang itu ? Kata Pageta Sabbau masih penasaran juga. Tiba-tiba terdengarlah suara yang tidak diketahui daria mana asal suara tersebut dan suara siapa.
"Hai Pageta Sabbau, itulah kekuatan yang saya berikan kepadamu. Kamu bisa menciptakan seperti saya menciptakan. Jagalah kekuatan itu untuk seluruh anak cucumu, jangan sekali-sekali kamu salah gunakan untuk kejahatan," seru suara itu dengan bergetar.
"Siapakah anda? Tanya Pageta Sabbau setengah berteriak.
"Kamu tidak perlu mengetahui siapa saya, yang jelas kamu mau panggil saya apa terserah," terang suara itu.
"Kalau begitu saya panggil anda bapak (ukkui)," kata Pageta Sabbau.
Namun suara itu tidak terdengar lagi, hilang entah kemana. Pageta Sabbau pun berdiri terpaku tanpa kata-kata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar