Kamis, 08 Oktober 2015

PAGETA SABBAU




OLEH : LAURENSIUS, SH.

Cerita ini diangkat dari penuturan para pinatua di Sarereiket Pulau Siberut. Cerita ini menceritakan seseorang yang merupakan salah satu nenek moyang orang Mentawai. Ia memeiliki sebuah anugerah, dan kepadanya diberikan sebuah tanggung jawab oleh ilahi untuk mengarahkan hidup manusia di Mentawai.

Pageta Sabbau merupakan sebuah nama yang sangat terkenal dan dihormati pada salah satu sekelompok bangsa di Indonesia, yaitu bangsa Mentawai. Sebelum terjadi penyebaran orang Mentawai disetiap pulau-pulau di Mentawai, pada awalnya, orang Mentawai hanya berasal dari satu pulau, yaitu pulau Siberut. Pulau ini merupakan sebuah pulau yang terbesar diantara tiga pulau lainnya (Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan). Oleh karena itu, dipulau Siberut inilah telah tercipta sebuah sejarah panjang Mentawai, dimana sejarah ini tidak memiliki suatu tulisan melainkan melalui penuturan para orang tua atau para tua-tua yang mereka terima secara turun-temurun dari nenek moyang mereka.
Sejarah yang sifatnya lisan ini hampir musnah, karena sifatnya tergantung kekuatan dan cara mengingatnya. Selain itu perlu juga dilihat dari keinginan orang tua terus atau tidak mensejarahkan Mentawai melalui tuturan kalimat, bukan tulisan.
Banyak sejarah Mentawai yang diketahui oleh orang tua melalui penuturan mereka, namun penulis hanya mengambil satu batasan dalam penulisan ini hanya mengenai seseorang yang pernah terkenal dan masih membekas buktinya sampai sekarang. Memang pada dasarnya pemikiran penulis, bahwa sejarah yang tidak memiliki bukti juga hanya sebuah fiksi sejarah. Tetapi walaupun demikian pada dasarnya juga masih banyak penulis yang terkenal yang ingin menggambarkan sebuah sejarah dunia masih dalam konteks pengaruh fiksi sejarah. Mereka (para penulis) melakukannya untuk merangkai alur kejadian sejarah agar mencapai suatu keaslian sejarah itu sendiri. Biasanya pelaku sejarah sangat dekat dengan sebuah kejadian yang dilihat, dirasakan dan dilakukan. Dalam mendokumentasikan sebuah sejarah, bisa saja pelaku sejarah melakukan dengan cara tuturan dan orang lain menulisnya. Atau bisa saja pelaku langsung melakukan pendokumentasian.
Dalam penulisan sejarah, yang paling sulit diungkap adalah sejarah Mentawai karena tidak ada suatu bukti fisik yang dapat menjadi obyek penelitian. Hanya saksi-saksi dan penyambung kalimat ceritera lewat lisan saja. Namun penulis merasa perlu mengungkap salah satu sejarah mengenai seseorang yang terkenal di Mentawai pada zamannya. Seseorang ini telah merubah hidup dan tatanan kehidupan orang Mentawai pada zamannya dan saat ini. Itulah dasarnya penulis memiliki motivasi untuk menulis tentang dirinya, dengan berbagai macam pertanyaan dalam pikiran penulis atas dirinya, kemampuannya merubah tatanan, budaya dan adat istiadat orang Mentawai. Bagi penulis seseorang ini merupakan suatu dasar terciptanya sebuah keyakinan bagi orang Mentawai yang akhirnya orang Mentawai mengalami suatu fenomena baru yang tidak kalah dengan fenomena pada zaman saat ini.



Madobag, 19 Juli 2012


Penulis


Siapakah Pageta Sabbau ?

Nama Pagetta Sabbau merupakan sebuah nama yang sakral bagi orang Mentawai. Karena kesakralannya, nama ini sangat jarang disebut-sebut. Jika dilihat nama Pageta Sabbau, berasal dari kata “Paagaita Sabeu”. Kalau diartikan dalam bahasa Mentawai sekarang akan memiliki makna “ Sangat Saling mengenal”. Jika disusun kalimatnya secara sederhana akan menjadi “ Terkenal”. Namun karena perkembangan bahasa Mentawai, berubah kalimatnya menjadi Pageta Sabbau. Pageta Sabbau merupakan salah satu nenek moyang orang Mentawai yang hidup pada abad yang lampau kira-kira tahun 1496 (perbandingan tahun kedatangan nenek moyang orang Mentawai dengan tahun sekarang ini), setelah 146 tahun masa renaisans di Eropa (kira-kira tahun 1350-an).
            Sejak kecil Pageta Sabbau sama dengan anak-anak lainnya. Ia suka bermain gasing bersama teman-temannya. Namun Pageta Sabbau memiliki hati yang baik. Jika ada teman-teannya yang bertengkar memperebutkan gasing, Pageta Sabbau akan menyelesaikan persoalan itu tanpa ada yang kecewa. Ia rela menggantikan gasingnya untuk temannya.
Pageta Sabbau bukan manusia biasa, Ia memiliki sebuah kekuatan yang dasyat serta bertutur kata dengan memakai berbagai macam perumpamaan kepada setiap orang yang menjadi lawan atau teman bicaranya.
Dalam hal ini saya teringat pada sebuah kisah, yaitu kisah perjalanan Yesus yang selalu berbicara kepada murid-murid-Nya dengan cara melalui perumpamaan. Seperti dalam Injil Mateus 13, mencatat beberapa perumpamaan singkat yang disampaikan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya, seperti : Pelita dibawah Gantang, Biji Sesawi, Ragi, Jala, Domba yang hilang, Perjamuan kawin dan lain sebagainya. Namun tidak hanya pada injil Mateus saja mengenai perumpamaan yang disampaikan Yesus, tetapi ada juga pada injil Markus dan Lukas.
Pageta Sabbau merupakan keturunan dari nenek moyang orang Mentawai dari Sipaili. ia merupakan keturunan ketiga dalam silsilah nenek moyang orang Mentawai. Pageta Sabbau memiliki kepribadian yang baik. Ia juga memiliki seorang isteri yang baik yang bernama Rajiuk. Tetapi mereka tidak memiliki keturunan. Pageta Sabbau hanya memiliki satu saudari yang bernama Biusak. Saudarinya ini juga telah menikah kepada seorang laki-laki yang bernama Ngolei, dan dikaruniai seorang putra yang bernama Penei.
Pageta Sabbau berasal dari suku Sabbau, yaitu suku nenek moyang orang Mentawai pertama. Suku Sabbau merupakan suku yang tertua di Mentawai. Mereka hidup tenang dan damai. Namun selain suku Sabbau, ada juga suku-suku lain yang hidup dan tinggal jauh dari tempat tinggal suku Sabbau. Merak tidak saling mengenal, karena alat komunikasi jelas saat itu belum ada dan jalur-jalur transportasi yang sangat sulit serta rawan jika berjalan sendiri karena jika menyeberang sungai ada buaya dan jika berjalan melalui darat dikuatirkan banyak binatang buas yang mengganggu.

“Inilah kisahnya”  episode I

Pada dasarnya, kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Pageta Sabbau adalah seperti kegiatan manusia lainnya yang dilakukan, misalnya berladang, beternak, dan lain sebagainya. Hanya ada satu kegiatan yang biasa dilakukan oleh Pageta Sabbau yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain, yaitu menciptakan sesuatu dengan bahasanya.
Pada suatu hari istri Pageta Sabbau Rajiuk bertanya kepada Pageta Sabbau, “Pageta, bahan makanan kita untuk besok tidak akan ada lagi, karena hari ini akan habis.” Mendengar pertanyaan sang istri yang tercinta kepadanya, Pageta Sabbau tersenyum sambil mengambil posisi duduk disudut beranda rumah pas berhadapan dengan istrinya. Kemudian ia menjawab istrinya,”hai istriku, kamu sangat kuatir sekali masalah makanan. Makanan hanyalah sebuah makanan yang sifatnya habis dimakan dan susah mencarinya.” Padahal saat itu di pulau Siberut hutannya memiliki sumber daya alam yang sangat tinggi. Banyak buah-buahan yang menjadi makanan. Namun Pageta Sabbau menyatakan bahwa makanan sulit untuk didapatkan.
Rajiuk bingung mendengar jawaban Pageta Sabbau. Tetapi Pageta Sabbau mengetahui kebingungan sang istri. “ Sudahlah, jangan kuatir. Nanti saya akan mencari stok makanan untuk hari selanjutnya”. Akhirnya hati Rajiuk lega ketika Pageta Sabbau menyatakan untuk mencari stok makanan mereka.
Hari semakin sore, Pageta Sabbau masih berada di rumah yang terbuat dari kayu-kayu pilihan dan beratap ijuk enau sedang duduk. Memang saat itu belum ada pohon sagu. Kemudian Rajiuk keluar dari dalam rumah dan melihat Pageta Sabbau sedang santai sambil memperhatikan gagang parangnya. Akhirnya, Rajiuk menegur Pageta Sabbau. “ Pageta, hari sudah sore. Engkau belum pergi mencari makanan untuk besok.” Pageta Sabbau tidak melihat istrinya, tetapi ia sudah mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri. Tidak lama, Pageta Sabbau menjawab istrinya sambil berputar kearah dimana Rajiuk duduk, dengan suara yang pelan ia pun berkata. “ Sabar…, saya akan pasti akan pergi mencari makanan untuk besok. Tapi saya berharap engkau tetap bersabar. Itu sudah tugas saya sebagai kepala rumah tangga kita.”
Mendengar jawaban sang suami, Rajiuk pun Nampak tersenyum kecil. Ia tersenyum karena kata SABAR yang dikatakan tadi oleh suaminya, Pageta Sabbau. Ketika Rajiuk dalam ABAR, Pageta Sabbau meletakkan parangnya dan turun dari rumah. Setelah dua langkah ia berjalan, Pageta Sabbau berbalik dan berkata kepada istrinya yang sedang asyik merajut tikar dari bahan rotan. “Hai, istriku, kesinilah sebentar.” Rajiuk pun mengangkat kepalanya yang sedang tertunduk memperhatikan susunan tikar rotan. “ Ada apa, Pageta ?” Rajiuk berdiri perlahan dan kemudian berjalan mendekati ujung lantai rumah kea rah suaminya. Kemudian Pageta Sabbau mengajak istrinya. “Turunlah dari rumah, datanglah pada saya dan lihat!”  Pageta Sabbau menunjukkan tangannya kea rah kolong rumah. Rajiuk pun turun dari rumah, kemudian ia menjongkok sambil matanya menyapu kolong rumah mereka. Ia pun terkejut ketika ia melihat banyak sekali bahan makanan mereka di kolong rumah. Kemudian Rajiuk berkata: “Hai, Pageta Sabbau, darimanakah engkau mendapatkan makanan sebanyak ini ?” Pageta Sabbau menjawab : “Setiap orang yang berharap, akan mendapatkan apa yang diharapkannya. Dan bagi siapa yang bersabar, ia akan menerima dari hasil kesabarannya.” Rajiuk heran apa yang baru tadi dikatakan oleh Suaminya. Ia tidak mengerti maksud kata-kata sang suami. Kemudian Pageta Sabbau pun melanjutkan perkataannya : “Setiap yang percaya, kepadanya akan diberikan karunia. Namun setiap orang yang diberikan karunia, akan menjadi tanggun jawabnya.” Rajiuk sangat heran. Ia terpaku mendengar kata-kata suaminya. Kata-kata itu terasa sejuk dalam sanubarinya. Ia melihat suaminya seperti malaikat yang menemui dirinya dan menyampaikan kata-kata bijak. Akhirnya, Rajiuk berani menanggapi suaminya.” Terus, bahan-bahan makanan ini dari mana ?” Pageta Sabbau pun menjawab istrinya, berkata : “Semuanya ini saya kumpulkan sendiri dari hutan tanpa engkau ketahui. Karena seekor binatang, tidak boleh melebihi seorang suami.” Mendengar kebijakan keluar dari kalimat  Pageta Sabbau, Rajiuk merasa lega. Ia pun berguman dalam hati,  “ kiranya suami saya orang yang bijak.” Kemudian, dengan hati yang rendah, Rajiuk berkata : “ Suamiku, engkau benar-benar bijak, baik perkataanmu maupun perbuatanmu. Saya bersyukur punya suami seperti engkau.” Akhirnya, Pageta Sabbau dan Istrinya, tersenyum bersama, sambil naik di teras rumah.
Hari mulai malam, Rajiuk mempersiapkan bahan makanan yang harus dimasak untuk santapan malam. Ia Nampak begitu sibuk. Namun kesibukannya itu ia menganggap sesuatu yang harus dilakukan. Ia memiliki prinsip, bahwa ketika tidak melakukan, tidak akan menjadi sesuatu dan tidak dapat sesuatu. Ia begitu senang melakukan pekerjaannya. Selain memasak makanan, Rajiuk juga membantu Pageta Sabbau di ladang bekerja.
Ketika makanan sudah masak, Rajiuk menghidangkannya dan memanggil Pageta Sabbau yang sedang duduk menghitung lidi,” Pageta, mari. Hidangan sudah siap.” Pageta Sabbau menoleh istrinya seraya meletakkan lidi ditangannya, lalu ia bangkit berdiri menuju ditempat makan yang sudah terhidangkan. Mereka pun makan bersama. Ketika sedang makan Pageta Sabbau berkata kepada istrinya : “ Istriku, makanan yang engkau masak ini sangat enak sekali. Oleh karena itu patutlah kita bersyukur kepada sang Pemberi.” Maka istrinya menjawab : “Ya, pageta, kita harus bersyukur, karena makanan ini pasti ada penciptanya.” Pageta Sabbau hanya terseyum kepada istrinya. Mereka pun melanjutkan untuk menikmati hidangan yang telah tersedia.
Setelah selesai makan malam, mereka pun bersantai sambil bebincang-bincang. Pageta Sabbau berkata kepada intrinya : “ Istriku, bumi ini sangat luas. kehidupan banyak sekali di dalamnya. Oleh sebab itu, perlu kita jaga jangan sampai rusak.” Istri Pageta Sabbau memperhatikan suaminya dengan seksama yang sedang berbicara. Ia tertarik dengan kata-kata hikmah Pageta Sabbau. Dan Rajiuk bertanya : “Kalau begitu, siapakah yang membuat bumi ini, Pageta ?” Pageta Sabbau tersenyum, dan berkata : “ Bumu dan segala isinya diciptakan oleh seseorang yang tidak Nampak. Dia itu diluar jangkauan kita sebagai manusia. Dia pintar, dan mengetahui segalanya, termasuk isi hati kita. Dia memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan ombak, banjir, api, angin, petir dan lain sebagainya. Dan Dia juga yang telah menciptakan kita.” Istri Pageta Sabbau mulai penasaran. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya. Istrinya pun bertanya : “ Kalau begitu, siapakah pencipta itu ?” Pageta Sabbau menggeser kakinya sebelah kanan, melipatnya dengan kaki kiri, dan berkata : “ Dia-lah Ulau Manua ( Tuhan). Rajiuk bertanya lagi dengan hati penasaran : “ Siapakah Ulau Manua itu ?” Jawab Pageta Sabbau : “ Seperti yang telah aku jelaskan padamu, bahwa Dia adalah pencipta bumi dan segala isinya. Dia juga yang menciptakan langit dan segala isinya. Dia tahu apa yang kita pikirkan dan apa yang kita inginkan. Segalanya dari Dia. Dalam segala tindakan-Nya selalu yang baik untuk makhluk yang ada di bumi ini.” Rajiuk mulai mengerti siapa yang dimaksud oleh Pageta Sabbau. Selama ini, pikiran Rajiuk bahwa bumi beserta isinya tercipta begitu saja. Kiranya ada yang menciptakannya yang memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan ciptaan-Nya sendiri. Maka, Rajiuk pun bertanya lagi : “ Suamiku, segalanya sudah diberikan oleh Sang Pencipta, terus, kita manusia apa yang harus kita lakukan ?” Pageta Sabbau menjawab istrinya : “ Sebagai ciptaan-Nya yang harus kita lakukan adalah menjaga ciptaan-Nya itu. Tidak boleh dirusak atau dihancurkan. Kita mengucapkan terima kasih melalui ucapan kita kepada-Nya. Kita hanya merendah dan tidak boleh sombong atas apa yang kita dapatkan dan miliki. Karena barang siapa yang sombong apa yang didapatkan dan dimilikinya, akan diambil kembali oleh-Nya.” Rajiuk benar-benar telah mengerti apa yang telah disampaikan suaminya yang bijak itu. Ia harus mulai berbuat sesuatu yang lebih baik dan belajar mensyukuri apa yang didapatkan.
Malam semakin larut. Pageta Sabbau mengajak istrinya untuk istirahat, katanya : “Istriku kita harus istirahat, karena tubuh kita juga harus kita jaga agar besok hari tubuh kita siap untuk melaksanakan pekerjaan kita di ladang. Dengan tersenyum, mereka pun menuju tempat peraduan. Malam itu mereka tertidur nyenyak. Dalam tidur pulas, Pageta Sabbau ditemui oleh seseorang dalam mimpinya. Seseorang ini datang dengan sinar yang sangat terang sekali. Berpenampilan bagaikan seorang raja. Di kepalanya Nampak oleh Pageta Sabbau sebuah mahkota kecil dengan posisi terikat. Banyak atribut yang berwarnah bergantungan dibadannya. Ada daun-daunan, kalung dan sebuah lonceng kecil di sebelah tangan kanannya. Seseorang itupun berkata kepada Pageta Sabbau : “ Pageta Sabbau. Aku datang menemui kamu. Karena ada sebuah tanggung jawab yang Aku berikan kepadamu yang harus kamu lakukan. Kamu harus menjaga semua yang telah Aku ciptakan. Dan kamu boleh mengambilnya untuk kebutuhanmu, tetapi jangan sampai rusak. Aku akan menitipkan sebuah lonceng kecil ini sebagai tanda dan tanggung jawab. Lonceng ini memiliki kemampuan sesuai apa yang kamu inginkan.” Setelah seseorang itu selesai berkata, Ia pun lenyap dari mimpi Pageta Sabbau. Kemudian, Pageta Sabbau pun sadar dari mimpinya dan bagun dari tempat tidurnya. Ia melangkah keluar rumah tanpa diketahui oleh istrinya. Di atas jenjang (Lokkot) ia melihat sebuah titik sinar. Pageta Sabbau pun melangkah kea rah sinar tersebut. Sinar itu tidak redup sangat terang benderang. Pageta Sabbau menjongkokkan badannya dan memperhatikan sebuah benda yang menimbulkan sinar tersebut. Ia melihat benda itu seperti lonceng kecil. Ia teringat mimpinya tadi. Pageta Sabbau berguman dalam hatinya: “ Mungkin inilah yang dimaksud oleh seseorang yang datang dalam mimpi saya tadi. Sebuah lonceng kecil yang memiliki kekuatan.” Pageta Sabbau tanpa ragu-ragu ia menjulurkan tangannya dan memungut lonceng itu. Keajaiban pun terjadi. Ketika tangan kanan Pageta Sabbau menyentuh lonceng, sinar lonceng tersebut hilang. Maka nampaklah sebuah lonceng kecil di tangan Pageta Sabbau. Ia pun memperhatikan lonceng tersebut. Walaupun malam hari tanpa lampu, ia bisa melihat gambar yang ada dilonceng itu. Ada ukiran-ukiran yang dibuat begitu indah dan unik disana. Kemudian dibawahnya ke dalam rumah dan disimpan di dalam sebuah peti kecil yang terbuat dari kayu. Setelah menyimpan lonceng tersebut, Pageta Sabbau pergi kembali ketempat tidurnya. Namun ia tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya penuh dengan pertanyaan mengenai mimpinya serta lonceng yang bersinar itu. Selain itu, Pageta Sabbau bertanya-tanya dalam hati mengenai seseorang yang datang mengunjunginya dalam mimipinya serta tanggung jawab yang dijanjikan kepdanya. Dalam keadaan hati yang penuh pertanyaan, tiba-tiba ia merasa nagntuk, akhirnya tertidur. Kemudian Pageta Sabbau bermimpi lagi. Seseorang yang sama datang menemuinya, dan berkata : “ Pageta Sabbau, bangunlah. Aku akan memberitahukan Kamu sesuatu yang sangat penting.” Pageta Sabbau pun terbangun. Kemudian ia matanya memeriksa disekeliling ruangan rumah, tetapi tidak ada seseorang yang ia lihat. Pageta Sabbau, penasaran dengan mimpinya, ia pun berdiri dan melangkah keluar rumah. Namun setelah ia membuka pintu rumah (sausau), ia melihat sinar yang sangat terang sekali, seperti sinar yang pernah ia lihat ketika mengambil sebuah lonceng kecil. Namun berbeda yang ada didalam sinar itu. Bukan sebuah benda melainkan wujud seseorang. Tetapi dari batas leher sampai ujung kepala tidak jelas. Maka seseorang dalam sinar itu, berkata kepada Pageta Sabbau.” Pageta. Mendekatlah padaku. Kamu akan saya ajarkan sesuatu.” Pageta Sabbau tidak menjawab, agak ragu-ragu, namun ia memutuskan untuk melangkah dekat dengan seseorang itu. Setelah dekat seseorang itu duduk menjongkok. Pageta Sabbau pun mengikutinya. Tiba-tiba sebuah lonceng kecil berada ditangan seseorang itu. Kemudian seseorang itu mulai bersuara dalam bentuk lagu sambil menggerakkan tangan kanannya dimana lonceng dipegang. Maka terdengarlah suara lonceng berbunyi. Namun suara lonceng tersebut hanya terdengar dalam satu nada saja. Walaupun bentuk satu nada, suara lonceng serta lagu yang dilantunkan oleh seseorang itu sangat serasi dan terdengar sangat indah. Mata Pageta Sabbau terbuai oleh suara lonceng dan lagu yang keluar dari suara seseorang itu. Pageta Sabbau merasa mengantuk, dan akhirnya tertidur. Tetapi di dalam tidurnya Pageta Sabbau jelas Nampak menyaksikan seseorang itu memainkan lonceng dan mendengar suara lagunya. Setelah seseorang itu selesai bernyanyi dan tangannya berhenti menggoyangkannya, ia pun berkata kepada Pageta Sabbau : “ Pageta. Ini merupakan lagu memanggil saya. Setiap kamu memanggil saya, kamu harus membunyikan lonceng kecil ini dan menyanyikan lagu yang baru tadi aku nyanyikan. “ Walaupun seseorang itu berbicara, namun Pageta Sabbau sedang tertidur pulas. Pageta Sabbau mengetahui apa yang disampaikan oleh seseorang itu, walaupun dalam keadaan tertidur. Di dalam rumah istri Pageta Sabbau, Rajiuk tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar. Ia masih tertidur nyenyak. Di luar rumah Nampak seseorang itu memberikan petunjuk-petunjuk kepada Pageta Sabbau yang masih tertidur telungkup. “ Segalanya sudah saya berikan kepadamu. Sekarang kamu sudah memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu kepada hal-hal yang baik.” Setelah selesai ia berbicara, tiba-tiba menghilang. Bersamaan menghilangnya seseorang itu, Pageta Sabbau sadar dalam tidurnya. “Ah! Apa yang terjadi pada saya ?” Sepertinya aku bermimpi dengan seseorang. Dan ia memberikan kekuatan padaku.” Setelah terbangun dari tidur, Pageta Sabbau mengingat semua apa yang telah disampaikan oleh seseorang itu kepadanya. Perlahan ia bangkit berdiri dan melangkah ke dalam rumah. Sampai ditempat tidur, ia melihat istrinya masih tertidur dengan nyenyaknya. Hari sebentar lagi akan pagi. Bunyi burung-burung pemberi tanda hari belum terdengar. Pageta Sabbau mengambil posisi lagi untuk tidur walaupun sebentar lagi akan para binatang terbangun di sarang-sarangnya. Ia hanya ingin menemani istrinya diperaduan. Rajiuk tidak mengetahu hal itu. Ia tetap dalam nyenyaknya.
Kicau burung pun terdengar menandakan hari sudah pagi. Suara burung murai batu begitu indah terdengar. Dari ranting satu keranting lainnya sambil bersiul seakan memberitahukan kepada makhluk lain bahwa hari ini adalah hari yang cerah. Matahari sebentar lagi akan menampakkan sinarnya yang berwarnah keemasan disela-sela dedaunan. Pageta Sabbau dan istrinya bangun dari tempat tidur. Rajiuk langsung mengambil sebatang bambu yang berukuran besar menuju sungai. Ia mengambil air bersih untuk memasak air minum. Pageta Sabbau seperti biasa menyiapkan parang (lanjau) dan kampak (oggut) untuk diasah pada sebuah bongka batu yang tergeletak dekat tonggak rumah. Ketika sedang asyik mengasah parang, datanglah seorang laki-laki dari suku lain. Laki-laki tersebut membawa busur, pisau yang terselip pada ikatan cawat disebelah kanan dan sebuah parang disebelah tangan kananya. Laki-laki itu pun menyapa Pageta Sabbau yang asyik menyiram parangnya dari sisa-sisa batu asah yang melekat di parangnya. “ Anai leu Ita (apa kabar).” Pageta Sabbau menoleh kearah asanya suara tersebut. Setelah itu Pageta Sabbau menjawab : “O’o’, anai leu ita, saraina (ya, kabar baik, saudara).” Mereka pun berjabat tangan. Pageta Sabbau pun mengajak laki-laki tersebut duduk diserambi rumah. Baru sebentar mereka duduk, istri Pageta Sabbau pun kembali dari sungai. Ia melihat laki-laki tersebut dan sambil tersenyum ramah memberikan salam : “ Anai leu ita.” Laki-laki itu pun menjawab : “ Anai leu ita.” Kemudian Rajiuk masuk ruangan rumah dan mulai mepersiapkan diri untuk memasak air yang baru diambil dari sungai. Pageta Sabbau dan laki-laki itu mulai berbincang-bincang. Pageta Sabbau pun bertanya kepada laki-laki itu : “ Siapakah nama saudara?” Dan dari suku mana ?” Maka jawab laki-laki itu : Nama saya Lipoik. Saya berasal dari suku Saleu.” Kemudian Pageta Sabbau bertanya lagi : “ Dimanakah letak wilayah suku kamu?” Maka jawab laki-laki itu sambil menunjukkan tangan kanannya ke rah Selatan : “ Letak wilayah suku saya, jauh dari sini. Untuk menuju wilayah suku kami, kita menepuh perjalanan selama dua hari. Kita bermalan ditengah hutan belantara.” Mendengar penjelasan Lipoik, Pageta Sabbau merasa kagum.  Ia merasa kagum atas kesabaran yang dimiliki oleh Lipoik. Dua hari perjalanan tanpa ada ransum yang dibawa Lipoik. Sambil menepuk bahu Lipoik berkatalah Pageta Sabbau kepadanya : “ Saudara, aku merasa kagum kepadamu. Kamu sangat sabar dalam perjalanan tanpa ransum. Tetapi kamu akhirnya sampai di tempat ini.” Namun dengan tersenyum, Lipoik menjawab : “ Saudara, saya minta maaf. Sejak awal kita berbicara sampai sekarang, saya belum mengetahui nama saudara.” Pageta Sabbau tersenyum dan berkata : “ Maafkan saya saudara. Bukannya aku lupa memberitahu namaku kepadamu. Tetapi saudara tidak menenyakan hal itu. Karena barang siapa yang ingin tahu harus bertanya. Barang siapa yang sudah tahu patut untuk diam dan memberitahukan sesuatu yang ia ketahui itu saat orang ingin mengetahuinya.” Sambil tersenyum juga, Lipoik menjawab : “ Oh. Maafkan saya saudara, saya yang lupa bertanya kepada saudara. Jadi, siapakah nama serta suku saudara?” Maka, Pageta Sabbau menjawab dengan tenang : “ Nama saya saudara adalah Pageta Sabbau. Saya berasal dari suku Sabbau, dan saya dengan istri saya tinggal disini.” Lipoik menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Pageta Sabbau yang tenang dan berwibawa. Sedang asyik berbincang-bincang, istri Pageta Sabbau, Rajiuk datang dan menyodorkan dua potong bambu yang  berisi air panas yang telah dicampur air enau untuk diseduk oleh Pageta Sabbau dan Lipoik. “ Ini airnya, minumlah supaya hangat badan kalian.” Mereka pun menerimanya. Pageta Sabbau pun mempersilahkan Lipoik untuk meminum airnya. “ Silahkan saudara Lipoik. Kita minum airnya agar badan kita hangat.” Secara bersamaan mereka pun mulai menikmati minumannya masing-masing.
Setelah meminum air yang hangat,  Pageta Sabbau bertanya kepada Lipoik, katanya : “ Saudara, Lipoik sebenarnya hendak mau kemana ?” Jawab Lipoik : “ Saya mau mencari rotan untuk pengikat tonggak-tonggak rumah kami. Saya tidak tahu daerah mana ini.” Sambil menatap Pageta Sabbau. Kemudian Pageta Sabbau menggeser kaki kanannya agar Nampak ia duduk bersila. Pageta Sabbau menjawab Lipoik : “ Saudara Lipoik, ini daerah suku kami. Daerah ini namanya “Matalu” (rawan banjir). Tetapi kami sudah menanami tobek (pohon baru) dipinggir sungai agar tidak terjadi pelebaran sungai.” Namun Lipoik merasa mendapat suatu pengetahuan dari penjelasan Pageta Sabbau mengenai cara mempertahankan pinggir sungai agar tidak melebar. “ Saudara, Pageta Sabbau, darimanakah saudara tahu cara melindungi pinggir sungai? Apakah ada yang memberitahukan saudara ?” Jawab Pageta Sabbau : “ Sama sekali tidak ada, saudara Lipoik. Pengetahuan itu ada sejak terciptanya alam ini. Alatnya sudah ada pada manusia itu sendiri yang diberikan oleh “Ulau Manua” (Tuhan). Tinggal kita yang mau mengelolahnya dan mau bersahabat dengan alam kita.” Lipoik sangat kagum atas penjelasan Pageta Sabbau. “ Mmmm…, begitu kiranya, bahwa kita harus mempelajari dan bersahabat dengan alam, sehingga alam juga mau bersahabat dengan kita, begitu kan Pageta?” Jawab Pageta sabbau dengan singkat : “ Betul.”
Dalam keadaan bercakap-cakap, istri Pageta Sabbau, Rajiuk hanya terdiam sambil tersenyum mendengar apa yang disampaikan suaminya kepada Lipoik. Sekali-sekali ia melihat kepada Suaminya yang sedang berbicara, kemudian sekali-sekali ia juga melihat Lipoik yang mulai memahami maksud suamianya itu.
Tak terasa matahari sudah mulai condong diufuk Barat. Pageta Sabbau pun melirik ke langit untuk memperhatikan waktu yang sedang berjalan melalui matahari. Kata Pageta Sabbau : “ Seumpama manusia yang baru lahir, masih bayi. Seiring dengan berjalannya waktu, bayi tersebut semakin dewasa. Sampai tua hingga menutup mata. Demikianlah juga dengan matahari. Ketika waktunya tiba, maka bumi akan meredup tanpa sinar lagi. Oleh karena itu, saudara Lipoik hari sudah mulai sore. Jadi kita cukupkan dulu pembicaraan kita. Jika saudara berkenan tinggal atau menginap disini, saya tidak keberatan karena semakin kita banyak mengenal orang lain, semakin banyak pula saudara kita dan semakin banyak juga  pengetahuan kita. Semakin kita banyak bersaudara, semakin pula kita bersama menjadikan alam ini baik.” Lipoik terlihat menganggukkan kepala dan mengangkat kepalanya menatap Pageta Sabbau, katanya : “ Sungguh mulia hati saudara, tetapi saya harus berangkat kembali lagi ke kampung saya, karena disana saudara-saudara saya pasti sedang menunggu saya untuk keperluan pengikat rumah kami. Jadi saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan saudara serta pengetahuan yang telah saudara berikan pada saya. Oleh karena itu saya mohon diri.” Lipoik pun melangkah kehalaman rumah dan Pageta Sabbau bersama istrinya memandang Lipoik yang sedang berjalan hingga tubuhnya hilang dari daun-daun pisang.
Pageta Sabbau dengan Rajiuk akhirnya merasa kesepian kembali. Rumah sunyi kembali. Hanya sekali-sekali terdengar suara burung kecil yang kebetulan terbang melewati rumah. Akhirnya mereka pun masuk ke dalam rumah. Perlahan Pageta Sabbau mendekati peti kecil tempat diamana ia menyimpan sebuah benda dari seseorang yang tidak ia kenal. Pintu peti pun dibuka Pageta Sabbau. Ia melihat sebuah lonceng kecil yang unik dan memendam misteri. Benda tersebut diangkat dari tempatnya. Kemudian Pageta Sabbau memperhatikan lonceng itu. Ia pun berguman : “ Lonceng ini bagus sekali bentuknya.” Kemudian Pageta Sabbau terus memperhatikan lonceng itu, kemudian ia berguman lagi : “ Lonceng ini terbuat dari besi kuning.” Di dapaur istri Pageta Sabbau Rajiuk sedang sibuk mempersipakan bahan makanan untuk dimasak. Rajiuk tidak memperhatikan Pageta Sabbau yang sedang memegang lonceng. Kemudian Pageta Sabbau mulai berpikir untuk memberitahukannya kepada istrinya mengenai keberadaan lonceng tersebut. “ Apakah saya harus beritahukan benda ini kepada istri saya.” Pageta Sabbau tertegun sejenak. “ Ya, sebaiknya  saya  harus memberitahukannya agar istri saya juga memahami keberadaan benda ini.” Pageta Sabbau pun berdiri. Sambil menjinjing lonceng di tangan kanannya ia mendekati Rajiuk dan berkata : “ Istriku.” Rajiuk menoleh kepada Pageta Sabbau dan menjawab “ Ya, Pageta.” Kemudian Pageta Sabbau memperlihatkan lonceng disebelah tangan kanannya kepada istrinya dan berkata : “ Lihatlah ini. Ada lonceng kecil.” Rajiuk pun bertanya : “ Darimanakah lonceng itu ?” Pageta Sabbau pun Menjawab : “ Lonceng ini diberikan oleh seseorang melalui mimpi saya semalam. Saya tidak tahu siapa orangnya. Begitu terang ketika ia datang. Dan akan gelap ketika ia pergi.” Rajiuk tidak mengerti apa maksud suaminya. Ia pun berdiri dan berkata : “ Maaf Pageta, saya tidak mengerti apa yang engkau maksudkan.” Pageta Sabbau pun mencari posisi untuk duduk menjelaskan maksud kata-katanya tadi kepada istrinya, katanya : “ Seseorang itu sepertinya bukan manusia. Ia memiliki kekuatan diluar kekuatan manusia. Semua tubuhnya terang bagaikan matahari. Dan lonceng ditangan saya ini juga memiliki terang saat saya mengambilnya. Saya berpikir, bahwa yang datang dalam mimpi saya itu adalah ‘Ulau Manua” yang menciptakan semua yang ada di bumi ini.” Rajiuk semakin tidak percaya atas kata-kata suaminya. “ Tetapi apa maksudnya ia memberikan lonceng itu. Apa manfaatnya.” Pageta Sabbau pun menjelaskan tujuan seseorang yang datang dalam mimpinya : “ Ia menyatakan bahwa lonceng ini memiliki kekuatan yang dasyat. Apa yang kita inginkan harus membunyikan lonceng ini, maka yang kita inginkan itu pasti dapat atau terjadi.” Rajiuk semakin heran dan berkata : “ Kalau begitu lonceng itu bukan lonceng sembarangan. Kita harus hati-hati untuk menginginkan sesuatu. Kita jangan sampai salah sehingga membuat bencana.” Pageta Sabbau pun menanggapi kata istrinya : “ Betul istriku. Kita jangan sampai ambisi atas lonceng ini. Dan lonceng ini jangan sampai jatuh ketangan orang yang tidak bertanggung jawab.” Rajiuk pun setuju apa yang dikatakan oleh suaminya : “Betul, kita harus rahasiakan keberadaan lonceng ini dari dunia luar. Hanya kita yang mengetahuinya. Jangan sampai diketahui oleh orang lain.” Pageta Sabbau pun berdiri dari tempat duduknya. Perlahan ia melangkah menuju peti dimana lonceng itu disimpan. Pageta Sabbau meletakkan lonceng itu kembali ditempatnya, kemudian pintu peti ditutup rapat-rapat.
Malam pun tiba. Setelah menyantap makan malam, akhirnya Pageta Sabbau dan Rajiuk istirahat menunggu hari esok lagi. Malam itu tidak terjadi sesuatu terhadap Pageta Sabbau. Ia begitu lelap tertidur sehingga terdengar suara dengkur memecah kesunyian malam itu.
Pagipun tiba. Ayam jantan berkokok seakan memberitahukan kepada kaum ibu-ibu untuk bangun memasak di dapur. Memang itu sudah suatu kebiasaan ibu-ibu dulu sampai sekarang. Mereka akan bangun pagi setelah ayam jantan berkokok menandakan hari sudah subuh. Dan kaum ibu-ibu akan bangun untuk memasak makanan. Begitu juga dengan Rajiuk. Ia bangun untuk menyiapkan masakan pagi itu. Setelah hari mulai terang, Pageta Sabbau bangun dari tempat tidurnya. Walaupun ia memiliki istri, namun tempat tidur mereka terpisah. Hal ini disebabkan karena Pageta Sabbau selalu melakukan pantangan. Kemudian ia melangkah mendekati tempat dimana kampak dan parangnya ia simpan. Perlahan tangan kanannya menjulur ke atas untuk meraih sebuah parang yang terselip di sela-sela atap rumah. Setelah itu ia pun memungut sebuah kampak yang tergeletak di lantai. Ia melangkah keluar mendekati batu asah yang terletak di tanah. Dengan air yang ada di bambu ia menyiram parangnya dan mengasahkannya di batu asah yang terletak pas dihadapannya. Setelah mengasa parang, ia pun memungut kampak dan menyiramnya, kemudian mengasahnya dengan perlahan. Setelah siap mengasah peralatan kerjanya, Pageta Sabbau berdiri dan pergi menuju sungai kecil yang tidak jauh dari rumah. Disungai ia mencuci muka dan membersihkan tangan dan kakinya. Setelah itu ia kembali lagi ke rumah.
Kemudian Rajiuk yang sudah siap memasak makanan memanggil suaminya : “Pageta, mari sarapan dulu.” Pageta Sabbau langsung masuk ke dalam rumah, dan duduk didekat istrinya. Kemudian Pageta Sabbau berkata kepada istrinya : “ Istriku, kita harus bersyukur pada hari ini karena kita bisa makan dan menikmati alam yang indah ini.” Jawab Rajiuk : “Ya, Pageta. Kita beruntung tinggal disini, karena alam disini banyak sumber daya yang tersedia.” Mereka pun menikmati sarapan pagi.
Setelah selesai sarapan, Pageta Sabbau berkata kepada istrinya : “Istriku hari ini saya akan pergi ke ladang bekerja. Jadi tolong jaga rumah kita. Benda itu jangan kamu sentuh.” Jawab Rajiuk : “Baik Pageta, jangan kuatir. Saya akan menjaga rumah sampai engkau kembali.” Pageta Sabbau berkata lagi : “ Tolong persiapkan air minum untuk saya bawa ke ladang, istriku.” Jawab Rajuik : “ Baik.” Rajiuk pun berlalu dihadapan Pageta Sabbau. Tak lama kemudian Rajiuk datang dan membawa sebatang bambu yang telah berisi air yang sudah masak. Kemudian diberikannya kepada suaminya. Pageta Sabbau pun menerima bambu itu, kemudian melangkah keluar untuk mendapatkan parang dan kampaknya. Tanpa basa-basi Pageta Sabbau bergerak melangkah pergi tanpa menoleh kembali kebelakang.  Sang istri sudah memahami hal itu. Pada prinsipnya setiap melakukan sesuatu jangan ada keraguan. Itulah prinsip yang berlaku pada keluarga Pageta Sabbau. Akhirnya bayangan Pageta Sabbau hilang dari pandangan sang istri. Pageta Sabbau terus berjalan menuju ladang. Dalam perjalanan ia dihadang oleh seekor ular raksasa. Kepala ular itu Nampak bertengger sebuah mahkota dan memiliki kalung yang terbuat dari manik-manik yang berwarnah-warnih. Ular Raksasa itu pun tertawa, “ha..ha..ha.., mau kemanakah engkau hai manusia ?” Melihat ular raksasa itu, Pageta Sabbau terkejut. Ia mencoba bersembunyi dibalikabbau. Pageta Sabbau mulai merasa takut, dan berseru : “ Hai ular ! Jangan ganggu saya ! Saya hanya lewat pergi ke ladang !” Ular raksasa itu setinggi sepuluh meter. Sekali-sekali kepalanya diturunkan untuk mendekati Pageta Sabbau dan menjilat wajah Pageta Sabbau. Maka kata ular itu : “ Mmmm… ini sarapan yang lezat sekali. Hari ini saya akan berpesta pora dengan santapan manusia seperti kamu.” Pageta Sabbau pun berusaha untuk memberanikan diri dan mencoba menghilangkan rasa takut yang sedang berkecamuk dalam hatinya. Kemudian ia berkata : “ Kalau begitu, saya akan menantang kamu. Kita akan bertarung terlebih dahulu.” Jawab sang ular raksasa : ‘Jangan sok melawan kamu hai manusia. Kamu tidak bisa menandingi kekuatan yang kumiliki.” Pageta Sabbau pun menjawab dengan menantang : “ Jangan kau anggap bahwa dirimu itu besar  dan seenaknya kamu meremehkan makhluk kecil. Saya tidak takut kepadamu.” Di rumah rajiuk mulai tidak enak perasaan. Ia berjalan mondar-mandir di dalam rumah. Kemudian merasa haus dan mengambil sebatang bambu yang berisi air. Namun sebelum tangannya menyentuh bambu tersebut, terdengarlah suara lonceng kecil berbunyi di dalam peti. Perlahan rumah mulai bergetar seakan ada gempa bumi. Bambu yang berisi air langsung jatuh dihadapan Rajiuk. Airnya tumpah dan bambu pun pecah. Rajiuk terkejut bukan kepalang. Ia melirik kearah suara lonceng, dan melihat ada sinar yang keluar dari dalam peti. Tiba-tiba, pintu peti itu terbuka. Rajiuk mulai takut. Dalam keadaan ketakutan, Rajiuk dikejutkan lagi oleh suara, kata suara itu : “Rajiuk, jangan takut. Tenagkan dirimu. Suamimu dalam bahaya, ia perlu pertolongan.” Rajiuk mulai menenangkan hatinya sambil memperhatikan lonceng itu di dalam peti. Tiba-tiba, lonceng itu hilang bersama sinarnya dihadapan Rajiuk. Di hutan Pageta Sdabbau sedang menantang Ular raksasa untuk bertarung. Kata Pageta Sabbau kepada Ular itu : “Hei ular ! Kalau berani, ayo, maju.” Barusebentar Pageta Sabbau berkata, mendadak muncul sinar yang terang menyelimuti seluruh tubuh Pageta Sabbau. Sang ular pun terkejut. Sepertinya ia pernah melihat sinar terang itu, tetapi lupa dimana tempatnya. Ular pun berguman dalam hatinya : “ Sepertinya saya pernah melihat sinar ini, tapi dimana, ya ?” Tiba-tiba tubuh Pageta Sabbau terangkat ke atas melewati kepala ular. Namun ular tersebut mulai gemetar ketika suara lonceng kecil terdengar berbunyi.  Ular raksasa itupun berlutut, dan berkata : “ Ampun, ampun, saya mengaku kalah. Kalau begitu apa permohonanmu kepad saya, hai manusia ?” Jawab Pageta Sabbau : “ Saya menginginkan kamu hanya menjadi sahabatku, dan tidak melakukan kejahatan di bumu ini.” Jawab sang ular : “ Kalu begitu baiklah. Saya akan setia pada kamu. Namun sebelumnya saya perlu mengetahui namamu. “ Jawab Pageta Sabbau : “ Baiklah. Nama saya Pageta Sabbau. Saya berasal dari daerah sebelah Selatan. Maka kata ular lagi : “ Terima kasih. Saya telah mengetahui nama kamu. Oleh karena itu, apa pun permintaan kamu, pasti akan saya kabulkan. Kamu bisa memanggil saya, kapan kamu mau.” Jawab Pageta Sabbau : “ Baiklah, terima kasih Ular.” Kemudian ular menjawab : “ Sama-sama Pageta Sabbau. Kalau begitu saya mohon diri.” Jawab Pageta Sabbau : “ Baiklah, selamat jalan.” Pageta Sabbau pun beranjak pergi dengan hati yang lega. Ia telah mendapatkan sahabat walaupun bukan manusia. Kemudian ia menyusuri jalan setapak untuk mencapai ladang.
Setelah sampai di ladang Pageta Sabbau meletakkan ransum yang dibawanya dari rumah, dan mulai melakukan pekerjaan.
Hari mulai siang. Terik matahari membuat tenggorokan ingin dibasahi oleh air. Suara Sungai terdengar  mengalir disamping ladang Pageta Sabbau seakan memanggil dirinya untuk membasahkan tubuhnya yang sedang kepanasan. Namun Pageta Sabbau orangnya bijak. Ia telah membawa air yang telah disiapkan oleh isterinya dari rumah sebagai pelepas dahaganya saat istirahat.
Pageta Sabbau pun mulai mencari tempat istirahat. Memang di ladang belum ada gubuk untuk istirahat. Sambil berjalan pelan ia menuju sebuah pohon kayu yang tumbang akibat angin kencang. Setelah mendekat, ia memperhatikan sebentar pohon tersebut sambil melihat dimana posisi yang paling baik untuk melepaskan lelahnya. Pageta Sabbau akhirnya duduk pada batang pohon tersebut di bagian pangkalnya. Kebetulan di bagian pangkal pohon terdapat pohon kecil yang tumbuh sebagai pelindung dari terik matahari. Ia pun merebahkan badannya sambil bersandar pada batang pohon kecil tersebut. Kampak dan parang diletakkan tidak jauh dari tempat ia istirahat. 


Bersambung hal. 1
Hari semakin sore, matahari mulai condong di ufuk barat. Pageta Sabbau pun terjaga, ia kemudian mencari arah suara sungai mengalir untuk mencuci muka dan membasahkan rambutnya yang panjang. Memang dahulu baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki rambut panjang. Sedang menikmati sejuknya air sungai, tiba-tiba muncul seekor kodok besar.
" Hai sobat, apa kabar?" Sapa kodok dengan bertanya.
Pageta Sabbau terkejut kemudian ia meluruskan posisi badannya tegak.
"Oh...saya mau mencuci muka, tadi saya tertidur lelap di ladang," Terang Pageta Sabbau sambil mengibaskan tangannya yang basah.
" Saya yang menjaga sungai ini, dari dulu nenek moyang kami sampai sekarang kami selalu menjaganya agar tidak ada yang merusak atau mencemarinya," kata kodok menjelaskan dengan menunjuk muara sungai.
" Kalau begitu boleh ndak kita bersahabat ?" Tawar Pageta Sabbau dengan senyum.
" Oh..kalau kami suku kodok sudah adat kami untuk menjalin persahabatn dengan pihak siapapun, karena kami suku kodok yang selalu ingin kedamaian," terang kodok dengan tenang tapi tidak sombong.  
"Baiklah kalau bergitu, terima kasih atas airnya saudara kodok. Jika ingin berkunjung datanglah ketempat saya disebelah Timur, saya dengan senang hati menerima saudara," kata Pageta Sabbau sambil tersenyum dan mundur dihadapan kodok.
"Baiklah saudara, saya sewaktu-waktu akan datang berkunjung ketempat saudara," kata kodok.

Pageta Sabbau pun melangkah untuk pulang ke rumah. Setelah sampai dirumah Pageta Sabbau langsung disambut oleh istrinya Rajiuk.
"Sudah pulang ale ?" Sapa sang isteri.
"Ya,"jawab Pageta Sabbau dengan tenang. Kemdian ia meletakkan semua alat-alat yang dibawanya. Sementara matahari sudah tidak diranting langit lagi sehingga tidak kelihatan dan hari mulai malam. Rajiuk mulai menyiapkan makan malareka pun makan. Setalah makan Pageta Sabbau menceriterakan apa-apa saja yang dialami selama diladang. Istrinya Rajiuk mendengarkan ceritera suaminya begitu serius, namun tidak bertanya. Malam semakin larut dan akhirnya merekapun tidur.

episode 2
Pageta Sabbau mampu menciptakan 

Pagi pun tiba, suara kecau burung bersahutan dari ranting satu keranting lainnya. Pageta Sabbau dan isterinya bangun pagi dan Rajiuk langsung melaksanakan tugasnya memasak ransum untuk suaminya ke ladang. Sedangkan Pageta Sabbau mempersiapkan peralatannya untuk dibawa ke ladang. Pageta Sabbau mulau mengasah parang dan kampaknya.

Matahari mulai menampakkan sinar keemasannya dibalik daun-daun pohon di dekat rumah mereka. Rajiuk mempersiapkan bekal suaminya.
" Ale, ini semua ransum untuk di ladang." Kata Rajiuk dengan suara datar dan tenang.
" Terima kasih, kalau begitu saya berangkat dulu," kata Pageta Sabbau meminta pamit kepada sang isteri tercinta.
Dalam perjalanan ia bertemua seseorang yang tidak dikenalnya. Sepertinya seorang laki-laki, tetapi masih muda dan dari kepala sampai kekaki bersinar keemasan. Pageta Sabbau pun memperhatikan seseorang tersebut dengan heran. Namun seseorang itu posisinya membelakangi pageta Sabbau.
"Maaf Saudara, siapakah saudara ?" Tanya Pageta Sabbau dengan suara sedikit gemetar.
" Saya dari langit, ingin bertemu denganmu Pageta Sabbau,"jawab orang tersebut.
"Kenapa saudara kenal nama saya?"Heran Pageta Sabbau.
" Ya, saya menetahui semuanya. Kamu orang baik, makanya saya datang menemuimu karena ada sesuatu yang harus kamu lakukan di bumi kecil ini Pageta Sabbau," terang orang itu tanpa bergeming dari tempatnya ia berdiri.
" Apa itu?" Tanya Pageta Sabbau dengan penasaran.
"Saya akan memberikan kemampuan kamu untuk menciptakan apa saya yang kamu inginkan,"kata seseorang itu dengan mengacungkan telunjuk jarinya ke atas.
" Maaf saudara, saya tidak pantas menerima itu, saya hanya manusia biasa yang tidak tau apa-apa,"  kata Pageta Sabbau merasa tidak pantas menerima sesuatu hal yang baik.
" Justru kamu orang biasa saya memberikan kemampuan itu," kata seseorang itu dengan membalikkan posisi kalimat Pageta Sabbau.
" Apa yang harus saya lakukan?" Tanya Pageta Sabbau dengan ragu-ragu dan sedikit mundur satu langka kebelakang.
" Yang jelas kamu akan berbuat baik. Sekarang bersiaplah menerima kekuatan dari saya," kata seseorang itu. Kemudian seseorang tersebut tiba-tiba membalikkan tubuhnya ke arah Pageta Sabbau dan menjulurkan tangannya ke arah Pageta Sabbau kemudian Pageta Sabbau langsung berlutut memandang seseorang itu dengan sinar yang betul-betul mensilaukan mata. Tangan seseorang itu keluar sinar putih kearah Pageta Sabbau dan badan Pageta Sabbau bersinar semua dan gemetar. Kemudian sinar putih itu pun hilang bersamaan menghilangnya seseorang itu.

Pageta Sabbau pun berdiri dan memeriksa tubuhnya. Ia merasa sangat kuat dan sehat. Kemudian ia memandang ke langit dan dilangit nampak cerah, kicauan burung bersahutan begitu riang seakan bumi merupakan tempat hidup yang layak bagi semua makhluk.
"Apa yang harus saya lakukan ? Mengucapkan terima kasih saja tidak sempat. Sipakah orang itu ya?" Bisik Pageta Sabbau dalam hati penuh dengan tanda tanya. Kemudia ia melanjutkan perjalannya menuju ladang. Setelah sampai di ladang ia duduk istirahat dan ia masih m,erasa penasaran atas kejadian tadi. Ia ingin mencoba kekuatannya  yang diberikan oleh seseorang.
" Saya coba dulu apa yang diberikan ini pada saya," kata Pageta Sabbau dalam hati. Kemudian ia berdiri dan mulai mencoba kekuatannya.
" Hai ladang, tumbuhlah tanaman pisang, kelapa dan umbi-umbian," kata pageta Sabbau.
Tiba-tiba pohon pisang, kelapa dan umbi-umbian tumbuh di ladang Pageta Sabbau dan sudah berbuah. Maka terkejutlah Pageta Sabbau bukan kepalang. 
"Wah... apakah ini yang dimaksud oleh seseorang itu ? Kata Pageta Sabbau masih penasaran juga. Tiba-tiba terdengarlah suara yang tidak diketahui daria mana asal suara tersebut dan suara siapa.
"Hai Pageta Sabbau, itulah kekuatan yang saya berikan kepadamu. Kamu bisa menciptakan seperti saya menciptakan. Jagalah kekuatan itu untuk seluruh anak cucumu, jangan sekali-sekali kamu salah gunakan untuk kejahatan," seru suara itu dengan bergetar.
"Siapakah anda? Tanya Pageta Sabbau setengah berteriak.
"Kamu tidak perlu mengetahui siapa saya, yang jelas kamu mau panggil saya apa terserah," terang suara itu.
"Kalau begitu saya panggil anda bapak (ukkui)," kata Pageta Sabbau.
Namun suara itu tidak terdengar lagi, hilang entah kemana. Pageta Sabbau pun berdiri terpaku tanpa kata-kata.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar