Rabu, 07 Oktober 2015

Asal Muasal Gempa Bumi (Sigegeugeu)





Dalam bahasa Sarereiket (Pulau Siberut), gempa bumi disebut Sigegeugeu. Sedangkan bahasa Sikabaluan disebut Sirururu. Kemudian dalam bahasa Sipora dan Sikakap disebut Teteu. Masing-masing penamaan ini memiliki arti dan makna tersendiri sesuai dengan daerahnya.

Kalau di Sarereiket pengertian Sigegeugeu adalah bergoyang. Jadi ketika muncul gempa bumi, baik bumi dan segala isinya digoyang. Jadi gempa bumi dianggap tukang goyang bumi.

Inilah awal mula ceritanya :
Ada dua orang beradik-kakak yang laki-laki bernama Jabau Laibok sedangkan perempuan bernama Tajiringit Manai. Mereka ini sudah yatim piatu di sukunya. Ketika dalam pembangunan uma baru, tumbal uma sangat diperlukan supaya uma tahan dan tidak cepat rusak.
Semua anggota Uma berkumpul. Maka tampillah Kepala suku sebagai penengah dalam pertemuan suku.
“ Saudara, saudara. Dalam pembangunan Uma kita sangat memerlukan tumbal agar Uma tahan lama atau tidak cepat rusak. Oleh karena itu kita perlu mengangkat senjata untuk berperang mencari orang lain sebagai tumbal pembangunan Uma ini.” Kata Kepala suku memulai pembicaraan rapat Uma.
Setelah kepala suku terdiam sejenak, tiba-tiba ada yang mengangkat tangan.
“Kalau menurut saya kita tidak perlu mengangkat senjata untuk melawan suku lain atau orang lain, nanti permusuhan kita sampai keanak cucu kita ke depan. Menurut saya, diantara anak-anak ada yang sudah yatim piatu, jadi kita bisa mengorbankan salah satu diantara mereka. Kalau mereka yang dikorbankan pasti tidak ada dendam yang menghampiri kita karena mereka juga keponakan kita.” Saran salah seorang anggota suku. Semua anggota suku yang hadir terkejut pernyataan salah seorang anggota suku itu, namun apa boleh buat. Memang jika angkat senjata melawan suku lain, maka suku yang diperangi itu akan dendam selamanya sampai keanak cucu. Mereka nampak menganggukkan kepala tanda setuju namun berat karena ada keraguan dalam hati mereka. Karena yang dikorbankan keponakan mereka sendiri.
“Kalau begitu siapa yang kita jadikan tumbal Uma kita ?” Terdengar suara seseorang yang merupakan anggota suku juga yang duduk di dekat orat (jenjang) Uma. Semua anggota suku melihat padanya.
“Kita akan mengorbankan  si Jabau Laibok. Bagaimana kita setuju semua ?” Kata Kepala suku menawarkan siapa yang akan dikorbankan.
“Kami setuju…..” Jawab mereka serentak.
Setelah selesai bermusyawarah, mereka pun menyiapkan segalanya untuk mengorbankan Jabau Laibok. Sebagian anggota suku menggali lobang di bawah tonggak Uma yang paling depan. Sebagian lagi anggota suku mengambil Jabau Laibok di dalam Uma dan mengikatnya. Adiknya yang bernama Takjiringit Manai meraung menangis melihat kakaknya mau dikorbankan.
“Jangan bunuh kakakku…u,..u..u, jangan bunuh dia, Tolong jangan bunuh kakaku.”
“Diam kamu !” Gertak salah seorang laki-laki yang bertubuh kekar kepada Takjiringit Manai. Laki-laki itu pun pergi meninggalkan Takjiringit Manai yang masih menangis pilu.
“Ayo! Cepat!” Perintah lelaki itu kepada sebagian orang yang telah mengikat Jabau Laibok. Ia memerintahkan agar si Jabau Laibok cepat dimasukkan ke dalam lobang. Kelompok itu pun memasukkan Jabau Laibok ke dalam lobang dan ditutuplah lobang tersebut dengan tanah hingga Jabau Laibok meninggal. Melihat hal itu, Takjiringit Manai langsung  berlalu menuju tempat dinama kakaknya dikubur hidup-hidup. Ia menangis sekuat tenaga sampai berdarah air matanya. Ia tidak akan bertemu lagi dengan kakaknya. Ia hidup sebatang kara lagi. Tidak ada tempat berlindung selain kepada kakaknya. Namun kini kakaknya telah dikorbankan hidup-hidup untuk menjadi tumbal uma baru oleh sukunya sendiri.
Takjiringit Manai begitu sedih. Hatinya tersayat-sayat, benci dan dendam kepada sukunya atas perlakuan mereka kepada kakaknya. Namun apa daya ia hanyalah anak kecil dan seorang perempuan. Ia tidak mungkin bisa melawan sukunya dengan tenaganya.
Malam pun tiba. Semua suku berpesta dan memotong babi untuk pesta. Namun Takjiringit Manai tidak ikut makan bersama dengan sukunya. Selera makannya hilang. Hanya kebencian yang nampak bergejolak dalam hatinya. Ia sangat sedih dan rindu pada kakaknya.
“ Takjiringit Manai, ayo makan. Nanti kamu sakit kalau tidak makan.” Kata seorang ibu yang mengasuh mereka berdua dengan kakaknya. Namun Takjiringit hanya diam saja. Melihat Takjiringit Manai hanya diam, ibu asuhnya pun mendekatinya.
“Nak, sudahlah, ayo mari kita makan bersama.” Ajak ibi asuhnya dengan lembut. Takjiringit Manai tetap diam saja. Akhirnya pesta malam suku selesai. Hari sudah larut, semua anggota suku termasuk Takjiringit Manai pergi ketempat peraduan dan tidur. Walaupun hati masih teriris rasanya dan terbayang-bayang atas kejadian tadi siang, namun akhirnya Takjiringit Manai pun tertidur.
Dalam tidurnya, Takjiringit Manai bermimpi bertemu dengan Jabau Laibok kakaknya. Dalam mimpinya ia bertemu dengan kakaknya disebuah bukit dan dibawah kelihatan indah sekali dengan kabut-kabut putih mengelilingi mereka Jabau. Takjiringit Manai merasa sangat senang dan bahagia bertemu dengan kakaknya.
“ Kak Jabau Laibok, apa kabar ? Aku sangat merindukan kakak. Kemaren kakak dimasukkan di dalam lubang oleh orang-orang dari suku kita. Tapi sekarang kakak masih hidup.” Kata Takjiringit Manai dalam mimpinya seakan tidak percaya melihat kakaknya dengan kejadian yang telah ia saksikan siang.
” Takjiringit Manai, kakak sayang padamu, itu makanya kakak datang menemui kamu. Sekarang alam kita sudah berbeda. Kakak datang kepadamu untuk memberitahukan sesuatu.” Terang Jabau Laibok.
“ Apa itu kak ?” Tanya Takjiringit Manai memamotong kalimat kakaknya.
“Saya akan menggoyang semua bumi, dan segala isinya akan ikut bergoyang atas pembalasan dendam saya. Oleh karena itu jika kamu terasa bumi bergoyang disaat matahari sudah condong disebelah Barat,  itu adalah saya. Jangan kuatir itu bertanda musim buah-buahan. Tetapi jika bumi bergoyang disaat matahari pas dikepala kamu, hati-hati itu bertanda musim penyakit. Ketika goyangan bumi sangat kuat dan dasyat, kamu harus berlindung di batang pisang, dan ucapkan kalimat surak, surak, surak. Kata surak merupakan tanda bagi saya bahwa kamu yang menyatakannya sehingga saya mengetahui dimana posisi kamu dan tidak akan saya goyang dimana kamu berdiri.”
Takjiringit Manai hanya diam mendengar kata-kata kakaknya. Dalam mimpi ia sadar bahwa kakaknya telah meninggal. Belum sempat berpikir yang lain, Jabau Laibok pun hilang begitu saja dalam pandangannnya. Takjiringit Manai pun menangis hingga terdengar kepada anggota suku lain yang sedang tertidur. Mereka pun terjaga dan membangunkan Takjiringit Manai. Setelah dibangunkan Takjiringit Manai pun menceriterakan mimpinya kepada kepala suku bahwa ia telah bertemu dengan kakaknya dan memberikan pesan penting.
Kepala suku pun menyampaikannya kepada seluruh anggota suku di Uma bahwasanya jika sore terjadi gempa itu menandakan musim buah-buahan. jika siang terjadi gempa, harus hati-hati karena menandakan musim penyakit. Namun setiap gempa terjadi harus menuju pangkal pisang dan mengucapkan kalimat “surak, surak, surak. Itulah pesan Jabau Laibok kepada adiknya Tajiringit Manai. Sampai sekarang pun orang Mentawai tidak terlalu kuatir dengan gempa. Gempa merupakan justru suatu berkah bagi orang Mentawai.
Bagi Sikerei, Jabau Laibok sangat dihormati atas pengorbanannya. Panggilan Jabau Laibok bagi Sikerei adalah “Sibajak”. Para Sikerei memiliki kemampuan untuk memanggil mereka berdua dengan cara menyuguhkan persembahan mereka berupa hati ayam dan keladi yang telah ditumbuk halus dan diberikan kelapa untuk Jabau Laibok. Sedangkan kuah ayam yang dimasak  untuk Takjiringit Manai.
Hal di atas dilakukan Sikerei jika gempa terlalu dasyat. Para Sikerei akan memohon kepada mereka berdua agar gempa dihentikan supaya tidak ada korban.

Oleh : Laurensius Sarogdok
                                   






Tidak ada komentar:

Posting Komentar