Dalam bahasa Sarereiket (Pulau
Siberut), gempa bumi disebut Sigegeugeu.
Sedangkan bahasa Sikabaluan disebut Sirururu.
Kemudian dalam bahasa Sipora dan Sikakap disebut Teteu. Masing-masing penamaan ini memiliki arti dan makna
tersendiri sesuai dengan daerahnya. Kalau di Sarereiket pengertian Sigegeugeu adalah bergoyang. Jadi ketika muncul gempa bumi, baik bumi dan segala isinya digoyang. Jadi gempa bumi dianggap tukang goyang bumi.
Inilah awal mula
ceritanya :
Ada dua orang beradik-kakak yang laki-laki bernama Jabau
Laibok sedangkan perempuan bernama Tajiringit Manai. Mereka ini sudah yatim
piatu di sukunya. Ketika dalam pembangunan uma baru, tumbal uma sangat
diperlukan supaya uma tahan dan tidak cepat rusak.
Semua anggota Uma berkumpul. Maka tampillah Kepala suku
sebagai penengah dalam pertemuan suku.
“ Saudara, saudara. Dalam pembangunan Uma kita sangat memerlukan
tumbal agar Uma tahan lama atau tidak cepat rusak. Oleh karena itu kita perlu
mengangkat senjata untuk berperang mencari orang lain sebagai tumbal
pembangunan Uma ini.” Kata Kepala suku memulai pembicaraan rapat Uma.
Setelah kepala suku terdiam sejenak, tiba-tiba ada yang
mengangkat tangan.
“Kalau menurut saya kita tidak perlu mengangkat senjata
untuk melawan suku lain atau orang lain, nanti permusuhan kita sampai keanak
cucu kita ke depan. Menurut saya, diantara anak-anak ada yang sudah yatim
piatu, jadi kita bisa mengorbankan salah satu diantara mereka. Kalau mereka
yang dikorbankan pasti tidak ada dendam yang menghampiri kita karena mereka
juga keponakan kita.” Saran salah seorang anggota suku. Semua anggota suku yang
hadir terkejut pernyataan salah seorang anggota suku itu, namun apa boleh buat.
Memang jika angkat senjata melawan suku lain, maka suku yang diperangi itu akan
dendam selamanya sampai keanak cucu. Mereka nampak menganggukkan kepala tanda
setuju namun berat karena ada keraguan dalam hati mereka. Karena yang dikorbankan
keponakan mereka sendiri.
“Kalau begitu siapa yang kita jadikan tumbal Uma kita ?”
Terdengar suara seseorang yang merupakan anggota suku juga yang duduk di dekat
orat (jenjang) Uma. Semua anggota suku melihat padanya.
“Kita akan mengorbankan
si Jabau Laibok. Bagaimana kita setuju semua ?” Kata Kepala suku
menawarkan siapa yang akan dikorbankan.
“Kami setuju…..” Jawab mereka serentak.
Setelah selesai bermusyawarah, mereka pun menyiapkan
segalanya untuk mengorbankan Jabau Laibok. Sebagian anggota suku menggali
lobang di bawah tonggak Uma yang paling depan. Sebagian lagi anggota suku
mengambil Jabau Laibok di dalam Uma dan mengikatnya. Adiknya yang bernama
Takjiringit Manai meraung menangis melihat kakaknya mau dikorbankan.
“Jangan bunuh kakakku…u,..u..u, jangan bunuh dia, Tolong
jangan bunuh kakaku.”
“Diam kamu !” Gertak salah seorang laki-laki yang bertubuh
kekar kepada Takjiringit Manai. Laki-laki itu pun pergi meninggalkan
Takjiringit Manai yang masih menangis pilu.
“Ayo! Cepat!” Perintah lelaki itu kepada sebagian orang yang
telah mengikat Jabau Laibok. Ia memerintahkan agar si Jabau Laibok cepat
dimasukkan ke dalam lobang. Kelompok itu pun memasukkan Jabau Laibok ke dalam lobang
dan ditutuplah lobang tersebut dengan tanah hingga Jabau Laibok meninggal. Melihat
hal itu, Takjiringit Manai langsung
berlalu menuju tempat dinama kakaknya dikubur hidup-hidup. Ia menangis
sekuat tenaga sampai berdarah air matanya. Ia tidak akan bertemu lagi dengan
kakaknya. Ia hidup sebatang kara lagi. Tidak ada tempat berlindung selain
kepada kakaknya. Namun kini kakaknya telah dikorbankan hidup-hidup untuk
menjadi tumbal uma baru oleh sukunya sendiri.
Takjiringit Manai begitu sedih. Hatinya tersayat-sayat,
benci dan dendam kepada sukunya atas perlakuan mereka kepada kakaknya. Namun
apa daya ia hanyalah anak kecil dan seorang perempuan. Ia tidak mungkin bisa
melawan sukunya dengan tenaganya.
Malam pun tiba. Semua suku berpesta dan memotong babi untuk
pesta. Namun Takjiringit Manai tidak ikut makan bersama dengan sukunya. Selera
makannya hilang. Hanya kebencian yang nampak bergejolak dalam hatinya. Ia
sangat sedih dan rindu pada kakaknya.
“ Takjiringit Manai, ayo makan. Nanti kamu sakit kalau tidak
makan.” Kata seorang ibu yang mengasuh mereka berdua dengan kakaknya. Namun
Takjiringit hanya diam saja. Melihat Takjiringit Manai hanya diam, ibu asuhnya
pun mendekatinya.
“Nak, sudahlah, ayo mari kita makan bersama.” Ajak ibi
asuhnya dengan lembut. Takjiringit Manai tetap diam saja. Akhirnya pesta malam
suku selesai. Hari sudah larut, semua anggota suku termasuk Takjiringit Manai
pergi ketempat peraduan dan tidur. Walaupun hati masih teriris rasanya dan
terbayang-bayang atas kejadian tadi siang, namun akhirnya Takjiringit Manai pun
tertidur.
Dalam tidurnya, Takjiringit Manai bermimpi bertemu dengan
Jabau Laibok kakaknya. Dalam mimpinya ia bertemu dengan kakaknya disebuah bukit
dan dibawah kelihatan indah sekali dengan kabut-kabut putih mengelilingi mereka
Jabau. Takjiringit Manai merasa sangat senang dan bahagia bertemu dengan
kakaknya.
“ Kak Jabau Laibok, apa kabar ? Aku sangat merindukan kakak.
Kemaren kakak dimasukkan di dalam lubang oleh orang-orang dari suku kita. Tapi
sekarang kakak masih hidup.” Kata Takjiringit Manai dalam mimpinya seakan tidak
percaya melihat kakaknya dengan kejadian yang telah ia saksikan siang.
” Takjiringit Manai, kakak sayang padamu, itu makanya kakak
datang menemui kamu. Sekarang alam kita sudah berbeda. Kakak datang kepadamu
untuk memberitahukan sesuatu.” Terang Jabau Laibok.
“ Apa itu kak ?” Tanya Takjiringit Manai memamotong kalimat
kakaknya.
“Saya akan menggoyang semua bumi, dan segala isinya akan
ikut bergoyang atas pembalasan dendam saya. Oleh karena itu jika kamu terasa
bumi bergoyang disaat matahari sudah condong disebelah Barat, itu adalah saya. Jangan kuatir itu bertanda
musim buah-buahan. Tetapi jika bumi bergoyang disaat matahari pas dikepala
kamu, hati-hati itu bertanda musim penyakit. Ketika goyangan bumi sangat kuat
dan dasyat, kamu harus berlindung di batang pisang, dan ucapkan kalimat surak,
surak, surak. Kata surak merupakan tanda bagi saya bahwa kamu yang
menyatakannya sehingga saya mengetahui dimana posisi kamu dan tidak akan saya
goyang dimana kamu berdiri.”
Takjiringit Manai hanya diam mendengar kata-kata kakaknya.
Dalam mimpi ia sadar bahwa kakaknya telah meninggal. Belum sempat berpikir yang
lain, Jabau Laibok pun hilang begitu saja dalam pandangannnya. Takjiringit
Manai pun menangis hingga terdengar kepada anggota suku lain yang sedang
tertidur. Mereka pun terjaga dan membangunkan Takjiringit Manai. Setelah
dibangunkan Takjiringit Manai pun menceriterakan mimpinya kepada kepala suku
bahwa ia telah bertemu dengan kakaknya dan memberikan pesan penting.
Kepala suku pun menyampaikannya kepada seluruh anggota suku
di Uma bahwasanya jika sore terjadi gempa itu menandakan musim buah-buahan. jika
siang terjadi gempa, harus hati-hati karena menandakan musim penyakit. Namun
setiap gempa terjadi harus menuju pangkal pisang dan mengucapkan kalimat “surak,
surak, surak. Itulah pesan Jabau Laibok kepada adiknya Tajiringit Manai. Sampai
sekarang pun orang Mentawai tidak terlalu kuatir dengan gempa. Gempa merupakan
justru suatu berkah bagi orang Mentawai.
Bagi Sikerei, Jabau Laibok sangat dihormati
atas pengorbanannya. Panggilan Jabau Laibok bagi Sikerei adalah “Sibajak”. Para
Sikerei memiliki kemampuan untuk memanggil mereka berdua dengan cara
menyuguhkan persembahan mereka berupa hati ayam dan keladi yang telah ditumbuk
halus dan diberikan kelapa untuk Jabau Laibok. Sedangkan kuah ayam yang dimasak untuk Takjiringit Manai.
Hal di atas
dilakukan Sikerei jika gempa terlalu dasyat. Para Sikerei akan memohon kepada
mereka berdua agar gempa dihentikan supaya tidak ada korban.
Oleh : Laurensius Sarogdok

Tidak ada komentar:
Posting Komentar