Ada sebuah Uma yang sedang melakukan pesta adat. Dalam pelaksanaan pesta ada seorang anak kecil menangis terus. Orang tuanya sudah mencoba untuk menenangkannya namun anak itu tetap menangi terus. Pesta terus berlangsung sehingga pesta seakan terganggu karena suara tangisan anak itu tidak bisa konsentrasi kepala suku yang sedang membacakan mantera. Akhirnya pesta tersebut ditunda untuk dilaksanakan esok hari.
" Pesta kita tunda saja, besok baru kita laksanakan lagi,"kata kepala suku.
"Baiklah kalau begitu,"jawab anggota suku.
Esok harinya pesta kembali dimulai, namun tiba-tiba suara tangisan anak itu terdengar lagi. awalnya masih kecil suaranya, lama kelamaan semakin keras suaranya.
"Huuuuuuu...huuuuuuuu...huuuuuuuuuu," suara tangis anak tersebut.
Akhirnya pesta adat pun ditunda kembali.
Besoknya pesta adat dimulai lagi dengan harapan tidak ada lagi yang menangis.
"Sekarang kita mulai lagi pesta adat, mudah-mudahan tidak ada lagi suara anak yang menangis sehingga kita bisa melaksanakan pesta adat dengan seksama,"kata kepala suku penuh harapan.
Namun baru kepala suku mengambil daun aileleppet, tiba-tiba suara tangisan anak terdengar lagi sangat keras.
"Jangan menangis nak," kata ibu anak itu.
" Ya, jangan menangis, ya nak," kata bapaknya menenangkan anaknya.
Namun suara anak itu semakin keras.
"Huaaaaaa.....huaaaaaa....huaaaaaaa....
Karena malu, semua orang melihat kepada anak mereka dan mulai mempersalahkan orangtuanya, akhirnya orang tua anak itu melemparkan anak ini kebelakang rumah. Pesta pun terus berjalan. Namun kedua orang tua anak itu lupa melihat anak mereka di belakang rumah. setelah pesta selesai pada malam hari, semua orang termasuk orang tua anak itu tertidur. Namun dalam tidur ibu anak tersebut bermimpi bertemu dengan anaknya.
"Bu....jangan cari saya lagi, ketika ibu bangun pagi hari dan melihat pohon kelapa di belakang itulah saya yang sudah jadi pohon kelapa. Ketika berbuah ambuillah buahnya untuk obat," kata anaknya dalam mimpi.
Ibunya pun terjaga pada malam hari dan langsung pergi kebelakang rumah, namun apa yang dilihatnya pohon kelapa. Anaknya sudah menjelma menjadi pohon kelapa. Ia pun menangis meraung sampai terdengar kepada anggota suku lain. Mereka pun datang dan melihat pohon kelapa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar